Senin, 13 Oktober 2014

Cerita Merapi #2 Chapter 1

Hari itu minggu, 20 april 2014. Beberapa bulan yang lalu saya dan teman-teman sedang berada di sebuah pulau namanya pulau tangah di kota Pariaman. Ceritanya ada disini, waktu itu ada saya, Bang Ade, Defri, Mery, Gadis dan Andre. Kita sedang menikmati makan siang, karena memang sudah jadwalnya makan siang.

Beberapa minggu sebelumnya, saya sudah mengajak mereka kecuali bang Ade untuk mengunjungi tempat yang mungkin lebih ekstrim lagi. Biasanya kita hanya pergi berwisata yang biasa saja, semacam di pantai atau ke pulau seperti yang sedang kita lakukan. Untuk saat itu saya mengajak mereka untuk mendaki salah satu gunung yang ada di Sumatera Barat, sebagian dari teman-teman saya menolak, karena diantara kami tidak ada satu orang pun yang punya pengalaman mendaki gunung.

Tapi hari itu, saya mencoba kembali mengajak teman-teman saya untuk mendaki gunung, tepat didepan orang yang benar-benar punya banyak pengalaman tentang mendaki gunung, yaitu bang Ade seperti yang saya ceritakan dipostingan sebelumnya. Saya hanya sebagai pembuka pembicaraan, selanjutnya bang Ade yang menjelaskan dan menghasut teman-teman saya untuk naik gunung. Walhasil dari cerita jalan-jalan ke pulau tepat dihari ulang tahun saya itu. Kita semua sepakat akan mendaki gunung merapi dalam waktu dekat. Hanya satu yang tidak setuju, yaitu Andre.

Ini memang untuk pertama kalinya Andre bergabung dalam lingkaran pertemanan saya di tempat kuliah, dia memang agak sedikit canggung disini. Diajak mendaki gunung pun katanya dia takut dan ngga bakalan diizinin sama Ibu nya, tapi beberapa hari kemudian setelah kesepakatan itu Andre positif ingin ikut bergabung, dalam paket wisata kita kali ini yang tergolong sedikit berbeda dan sedikit lebih ekstrim dibanding wisata-wisata sebelumnya.

Persiapan hanya satu minggu saja, dengan membuat sebuah group chatting di BBM agar bisa konek antara satu dan yang lain dalam satu forum, disanalah bang Ade menjelaskan. Apa saja yang dibutuhkan untuk mendaki gunung, apa saja larangannya dan banyak tips-tips lainnya. Akhirnya tanpa banyak berfikir ditunjuk lah tanggal 3 mei sebagai tanggal keberangkatan. Dengan cara bolos kuliah karena ini bertepatan sekali dengan hari minggu. Kata bang Ade jika mendaki gunung Merapi kita hanya butuh waktu dua hari satu malam saja.

Sampai pada hari yang ditentukan, positif yang akan mendaki pada hari sabtu 3 Mei itu adalah. Bang Ade, Saya, Defri, Mery, Gadis, Andre, Kak Id dan dua orang teman junior bang Ade yang juga getol mau kegunung, dan mereka berdua juga baru pertama kali mendaki gunung yaitu Igo dan Wel. Tapi perjuangan saya untuk bisa berkumpul bersama teman dan berangkat pada hari sabtu sungguh tidak mudah. Beberapa hari sebelum itu undangan Rakor (Rapat Koordinasi) ke Medan sudah dikirim ke email masing-masing, termasuk saya.

Bos saya langsung misuh-misuh agar laporan segera disiapkan mulai dari hari jumat malamnya, saya minta maaf kepada teman-teman yang lain karena tidak bisa membantu mereka menyiapkan segala keperluan untuk mendaki malam itu, saya hanya sibuk mengerjakan laporan sampai jam 2 pagi, dan untuk esok harinya saya berdalih izin kuliah hari sabtu dan minggu ke Bos agar tidak disuruh ke Medan pada hari minggu, karena Bos berangkat ke Medan hari minggu. Saya boong kuliah hari minggu padahal sebenernya ke Gunung dan bakalan nyusul ke Medan di hari seninnya.

Saya hanya tidur beberapa jam saja malam itu, sabtu pagi jam 5 sudah bangun lagi, mandi dan menyiapkan semua yang bakalan dibawa ke Gunung, jam 6 pagi kita semua sudah kumpul di kos Mery. Dan langsung berangkat ke Pariaman terlebih dahulu bertemu dengan bang Ade dan Juniornya yang 2 orang itu. Sampai di Pariaman hampir jam 8 pagi, ternyata bang Ade masih tidur. Lebih dari 1 jam kami menunggu bang Ade baru nongol, dan masih banyak lagi keperluan lain yang diurusin di Pariaman sampai akhirnya kami berangkat dan sampai di Padang Panjang, Kaki Gunung Merapi jam 10 Pagi.

Simpang Jaguang, Pariaman tempat berkumpul, Minus Mery
Pusiiing boooo, di tanjakan abis bensin :(
Pasar Koto Baru, Awal mula perjalanan
Disebuah daerah di jalan lintas Padang Bukittinggi bernama Koto Baru, kami menunggu teman bang Ade yang bakalan ikut bareng. Disana kita melihat beberapa orang yang juga sepertinya sedang bersiap untuk naik dan ada pula yang terlihat sudah kotor mungkin baru saja turun. Kita sempat sarapan dulu, karena teman bang Ade lama sekali datangnya, kami memutuskan untuk langsung menuju Posko dan mendaftarkan nama serta membayar biaya administrasi. Tak berapa lama kami sudah berjalan di jalanan tanah yang mulai sedikit menanjak.

Melepas penat, di Pesanggrahan
Beberapa menit kemudian kami tiba di pesanggrahan, terlihat pintu masuk kehutan sangat jelas, disana kami sedikit istirahat dan sedikit menikmati pemandangan gunung Singgalang diseberang dan Kota Padang Panjang serta sawah dan pertanian yang sangat indah. Tak berapa lama kamipun melanjutkan perjalanan.

Dalam regu kami mendaki ke gunung Merapi hanya bang Ade yang sudah punya pengalaman naik gunung, sisanya 8 orang adalah newbe, mungkin ini bakalan sedikit merepotkan bang Ade. Saya yang tadinya sangat sombong bakalan mampu dengan mudah bisa naik ke pintu angin tempat kebanyakan orang kamp dalam waktu 6 jam, langsung tertunduk lesu.

Mencoba eksis, walau capeek banget
Saya nyaris putus asa melihat jalanan yang nyaris vertikal, saya merasa ini bukan mendaki namanya, tapi memanjat. Berpegang erat pada akar-akar kayu semakin naik beberapa sentimeter dari setiap langkah. Saya juga baru tau, jika kita bertemu dengan jalanan yang rata, bisa dikatakan itu bonus. Lega banget rasanya betis bisa berjalan dengan seringan itu. Kesombongan saya yang lain adalah, saya merasa mampu membawa sebuah gitar keatas gunung, dan ternyata saya salah. Saya semakin merana ketika harus memegang gitar dan memegang erat akar-akar pohon juga agar tidak ketinggalan dari yang lain.

Tapi Gadis sepertinya wanita paling tangguh yang pernah saya liat, entahkah karena badannya yang kecil sehingga dia bisa dengan santai bisa cepat sekali berjalan dan jauh meninggalkan yang lain, Cuma Mery yang memang rada lelet jalannya berhenti setiap beberapa menit sedangkan yang lain normal. Perjalanan mendaki gunung berjam-jam hanya itulah pemandangan yang bisa kita lihat. Pohon-pohon besar, bunyi-bunyi binatang, baik burung atau bunyi binatang apapun bisa kita dengarkan diatas gunung sana.

Foto yang sempat di ambil, ketika istirahat
Sempat kehujanan sedikit juga selama dijalan tapi Alhamdulillah perjalanan dilancarkan oleh Allah, sampailah kami di tempat yang namanya “lubang mancik” sudah tidak ada lagi pohon-pohon besar di daerah itu yang ada hanya tanaman yang mungkin sejenis pakis, karena saya liat daunnya sama persis seperti pakis. Saya lihat jam tangan sudah menunjukkan jam 5 sore. 6 jam sudah kami berjalan, dan kami belum sampai ditempat yang bernama pintu angin, tempat kami akan menginap malam ini dan menyiapkan tenaga untuk besok menyambut pagi yang mungkin bakal menakjubkan.

Teman-teman yang lain sudah sampai diatas, saya masih terjebak di lubang mancik. Bang Ade menemani saya disana, saya seperti dehidrasi. Sebelumnya dibawah bang Ade memang berpesan agar ngga usah banyak-banyak membawa air minum. Tapi sumpah saya haus banget, udah ngga mungkin lagi kaki saya melangkah ke jalanan yang vertikal seperti ini. Akhirnya bang Ade menyuruh saya meminum tetes tetes air di ujung daun pakis tersebut. Oke ini pengalaman naik gunung yang ngga bakalan pernah saya lupain. Saya belajar bagaimana menghargai air, saya teringat kembali. Selama ini saya boros air jika mandi, mengisi gelas penuh-penuh dan malah ngga menghabiskannya namun dibuang, saya ingat air yang bersisa-sisa digelas itu, walau hanya satu teguk.

Alhamdulillah, bisa nyusul temen-temen
Pengalaman yang itu mengajarkan saya untuk menghargai sesuatu, barangkali ketika itu kita tidak sedang butuh, tapi pasti bakalan ada masa dimana, hal yang sama sekali kita anggap remeh. Akan menjadi sangat kita butuhkan. Saya mencoba lagi melangkahkan kaki mengejar ketertinggalan saya dari teman yang lain, beberapa menit kemudian saya sudah berada di Pintu Angin, tempat teman-teman saya sudah berkumpul, tempat dimana para pendaki lain sudah mendirikan tenda dan asik memasak untuk makan malam. Jam 6 sore alhamdulillah saya berhasil menginjakkan kaki di Pintu Angin, tempat untuk mempersiapkan diri besok pagi.

Dari hal itu saya belajar lagi. Tempat yang ingin saya tuju itu hanya beberapa kaki saja diatas saya, saya nyaris menyerah karena rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan, tapi setiap tetes-tetes air dari ujung daun pakis dan pelajaran-pelajarannya tadi membuat saya berfikir saya pasti bisa mengikuti langkah teman-teman saya yang sudah dulu sampai diatas saya. Kadang saya berfikir menyerah bukanlah sebuah pilihan. Akan ada waktu dimana kita dituntut untuk terus maju karena terkadang kita tidak tau apa yang ingin kita tuju itu hanya beberapa meter saja diatas kita. Dan dari situ saya belajar tidak ada alasan untuk menyerah dan stuck ditempat yang kita rasa sudah aman. Padahal TIDAK.

Perjalanan yang biasanya ditempuh dalam waktu 4 – 6 jam oleh pendaki biasa kami tempuh dalam waktu 8 jam dengan dalih oleh kami sebagai pendaki pemula. Sesampainya di Pintu Angin saya melihat teman-teman yang lain sedang duduk santai sambil beristirahat. Semuanya sudah memakai jaket karena diketinggian itu, persis dibawah cadas apalagi sudah mau malam udara sudah mulai sangat dingin. Dari kejauhan terlihat matahari mulai pamit dari tanggal 3 dan seolah berucap, “Sampai bertemu besok pagi, di PUNCAK MERPATI”. Yang saya tau dari orang-orang puncak tertinggi gunung merapi di Sumatera Barat namanya Puncak Merpati.

Akhirnya semua sampai di Pintu Angin

Awan dan Gunung Singgalang itu yang jadi saksi Matahari
Sempat beristirahat sebentar, saya dan teman-teman yang lain langsung mencari tempat yang lumayan rata untuk mendirikan tenda tempat istirahat malam ini. Sebagai pemula, kami hanya bisa melihat dan ngga banyak bisa membantu, tapi mungkin ada pemakluman dari bang Ade melihat cara saya bergaul selama ini dengan dia dan teman-teman saya. Tapi entahlah, dipenghujung jalan ada kata-kata bang Ade yang membuat saya lega, bagaimana menurut dia perjalanan menuju puncak merapi ini.

Sepanjang malam hanya dihabiskan mengobrol dan bernyanyi seraya memainkan gitar yang rasanya mati-matian saya bawa keatas gunung ini, lagian saya nya juga yang kegatelan baru pertama kali mendaki gunung sudah sok-sok an membawa gitar, tobat deh beneran. Tapi mau ngga mau jam 11 udah pada tidur semua, karena besok pagi jika pengen nepatin janji ke matahari bakalan ketemu dipuncak harus, berangkat jam 4 pagi ke atas. Itupun kalo ngga kabut atau cuaca rada tidak bersahabat.

Aktifitas Malam


Ruangan Ibu-Ibu


Anggap lagi nonton bareng
Saya sama sekali tidak membawa sleepingbag ke atas gunung sana, tidur paling sudut dan bersentuhan dengan tenda langsung yang kerasa dingin banget, rasanya dimana-mana gelap, saya tidak bisa melihat apa-apa cuaca begitu dingin rasanya menusuk sampai ke tulang belulang. Saya coba rapikan bentuk sarung, satu-satunya benda yang saya berharap mendapat kehangatan darinya. Saya tidak tau ini jam berapa, tapi keadaan saya yang berisik karena kedinginan membuat teman-teman setenda yang lain bangun.

“hayoo berangkat-berangkat!!” teriak bang ade beberapa menit kemudian “hmmmmm” seperti nada malas semua menyahut, ternyata bukan hanya saya yang terbangun di pagi buta sedingin ini, saya coba meraih handphone yang ada didalam saku celana, saya lihat sudah menunjukkan pukul 4 pagi, tadi yang mulai ribut seperti tenang kembali, balik ke tidurnya masing-masing. “kalo mau tidur dirumah aja, ngapain capek-capek naik keatas gunung kalo mau tidur doang” sekali lagi suara bang Ade mengalahkan dingin karena semangat saya terbakar ingin menepati janji pada matahari.



Kita mulai menggapai cadas, bahkan sebelum ayam benar-benar bangun! Sampai bertemu di chapter selanjutnya :D.

Tentang Negeri di atas awan, dan Janji Matahari menuju Esok :)