Minggu, 13 April 2014

Minggu Kedua Bulan April

Akhir-akhir ini cuaca Padang rada aneh, sejak kapan musim hujan pindah ke bulan April? Jadi ingat setahun yang lalu, ngga bisa landing di Padang karena cuaca yang begitu buruk, sehingga penerbangan saya dari medan, harus mampir dulu di Pekanbaru sampai cuaca Padang membaik.

Malam sabtu kemarin, saya sedang mengerjakan tugas kuliah sampai jam 1 malam, walau pada akhirnya sama sekali tidak membuahkan hasil, tidak tau mengapa jendela kamar berbunyi seperti ada yang mendorong dari luar. Rumah ini memang sering kosong, karena rumah ini hanya digunakan untuk tidur di malam hari, sedangkan dari pagi sampai jam sepuluh malam rumah ini kosong, yang tinggal dirumah ini termasuk saya sering sekali pulang malam dari kantor, atau saya juga sering tidur sendiri dirumah sebesar ini, ketika yang lain menginap beberapa hari di proyek yang kira-kira 4 – 5 jam perjalanan dari kota Padang.

Malam itu dengan sok berani saya mendekati jendela, karena jendela tersebut kaca maka sangat terlihat jelas tetesan air menempel di jendela, ternyata sedang hujan diluar. Jendela tersebut jenis jendela yang digeser ke samping, saya pun membuka jendela tersebut. Tiba-tiba angin berhembus kencang dari luar membawa tetes-tetes air yang lumayan deras kedalam kamar, ternyata sedang terjadi badai diluar. Ada apa dengan Padang, beberapa jam yang lalu langit terlihat cerah dan tiba-tiba ada hujan badai.

Hari sabtu datang, seperti biasa alarm berbunyi beberapa jam lagi UTS di kampus, tapi rasanya saya malas sekali bergerak dari tempat tidur, tapi seperti biasa selalu ada keributan pagi-pagi antara pak Nafis dan Yunan. Yang ketawa ngakak tanpa peduli ada orang lagi tidur, yang selalu saja menceritakan kejadian tadi malam yang awalnya lucu sampai cerita itu benar-benar menjadi garing.

Saya lihat jam di Handphone sudah jam setengah delapan, ada UTS Mekanika Tanah jam delapan pagi ini, rasanya malas sekali untuk bangun dan mandi. Tapi suara berisik Pak Nafis dan Yunan juga membuat niat untuk kembali tidur hilang. Dengan gontai saya melangkah ke kamar mandi menyambut hari yang saya tidak tau akan sedikit meledak hari ini. Setidaknya hari ini saya banyak tersenyum, tertawa, dan menemukan nama-nama baru.

Setelah selesai beres-beres, saya sama sekali tidak menyiapkan apa-apa untuk Ujian Tengah Semester hari ini, Cuma modal beberapa catatan yang tidak jelas dan pulpen. Saya berangkat kuliah dengan Bebe, motor kesayangan, menyusuri tepian Banjir Kanal kota padang. Sedikit melanggar aturan lalu lintas dengan tidak memakai helm, di jalanan tiba-tiba handphone saya berbunyi. Telpon dari Meri “Hanafi dimana? Udah masuk Bu Melda, da Dep mana?” suaranya sedikit nyaring di telpon, “iya Mer, ini sudah dijalan, Defri? Ngga tau kemana.” Saya sedikit menjelaskan memang sih biasanya saya ke kampus selalu berdua sama Defri karena udah beberapa bulan ini memang saya sudah tidak sekamar lagi dengan Defri. Lagian biasanya kalau dia tidur dirumah pasti pagi-pagi sekali Defri udah nyampe kampus.

Ujian seperti biasa, bukan karena tidak ada niat untuk kuliah, memang kadang jam kerja yang membatasi untuk belajar dirumah, susah memang membagi waktu untuk kerja dan belajar. Ini sebenarnya hanya alasan yang sok intelektual, dengan kata lain alasan sebenarnya adalah MALAS!. Tapi hari ini memang itulah yang terjadi, ketika kertas jawaban sudah dibagikan, isi kolom nama dan lain-lain, catat soal yang ditulis dosen didepan kelas dan diam sambil menunggu wangsit turun dari langit.

Salah satu wangsit, juga salah satu kegunaan smartphone
Mata kuliah selanjutnya, harusnya minggu ini juga UTS. Tapi entah kenapa Dosen nya ngambek karena kita semua mahasiswa yang mengambil mata kuliah itu selalu masuk terlambat. Dan hari ini beliau ngambek serta menunda UTS mata kuliah yang dia ajar minggu depan, lalu belajar lagi di kelas.

Selanjutnya UTS beton, seperti biasa menunggu wangsit dari langit dengan sedikit sok mengerti dengan ujian yang sedang dikerjakan, hari ini benar-benar buruk sepertinya IP semester ini bakalan anjlok lagi seperti semester sebelumnya, selesai UTS Beton perut mulai keroncongan karena sudah jam 12:30 siang, cuaca yang dari tadi pagi cerah dengan sisa-sisa hujan yang menggenang dimana-mana tiba-tiba memburuk lagi dengan cepat, saya, Defri, Meri dan kak Ied jalan kaki menuju rumah makan yang ada dijalan Veteran kira-kira beberapa ratus meter dari kampus, kita berjalan dibawah gerimis. Langit begitu mendung seperti bakalan badai lagi seperti tadi malam, Anomali cuaca, saya bertanya lagi. Apa musim hujan benar-benar pindah ke bulan April?

Sampai dirumah makan, hujan yang tadi gerimis mulai deras. Rumah makan ini juga rame banget, lagian mahasiswa ini juga banyak yang hadir kalo cuma ada Ujian, siang itu agak redup karena tidak ada matahari dan rasanya orang-orang yang datang seperti sedang ada acara Buka Puasa Bersama. Sampai-sampai costumer sudah tidak dilayani lagi, dan membuat saya sedikit kesal, perut sudah keroncongan, hasil UTS tidak memuaskan, ditambah makanan yang tidak datang-datang kemeja makan, sekali lagi saya berfikir ini hari yang sedikit menyebalkan.

Akhirnya nasi yang ditunggu-tunggu datang juga, karena saya duduk di ujung persis disamping Meri, tanpa sengaja Meri numpahin air kobokan di nasi saya. Meski saya tau itu air belum di cuciin tangan disitu, ya tetap saja itu air kobokan, gila! ini benar-benar hari yang menyebalkan, sederet kejadian yang tidak menyenangkan tadi, dan selanjutnya saya harus makan dengan kuah air kobokan! What a perfect day ever!!

Balik dari rumah makan, hujan yang lumayan deras harus ditempuh karena sebentar lagi bakalan masuk UTS selanjutnya Analisa Struktur. UTS yang juga menunggu wangsit dari langit. dijalan tiba-tiba kak Ied ngomel-ngomel, saya pikir kak Ied lagi ngomel-ngomel masalah pelayanan rumah makan tadi, tapi ternyata tidak, dari lapar sampai kenyang kak Ied masih ngomel dengan dosen yang tadi, ngasih soal ujian beda dengan materi yang dia ajarkan selama kuliah dengan dosen tersebut.

Jam 15:00 UTS Analisa struktur berakhir, dengan hasil yang juga sedikit mengecewakan, selanjutnya masuk mata kuliah Perencanaan Perkerasan Jalan, saya sedikit suka mata kuliah ini. Tugasnya saya mengerti dan kemarin ketika saya menyusun Justek untuk proyek di Pasaman, sedikit banyaknya berhubungan dengan ini. Jadinya seneng aja mengerjakan tugas seperti ini, ditambah seminggu yang lalu dosen nya bilang, tidak ada UTS untuk mata kuliah nya, cukup dengan tugas yang harus di asistensi setiap minggu itu saja.

Setelah masuk dengan dosen tersebut, lalu tiba-tiba beliau bilang. Hari ini tugasnya harus sudah di kumpul, harus selesai dan di ACC, baru bisa tanda tangan di Absen UTS, kalo tidak nilai UTS nya kosong. Konspirasi macam apa ini? Memang tugas saya satu lembar lagi selesai, tapi saya tidak mengerti kalau tidak dijelaskan bagaimana caranya kalau tidak diajari sama dosen tersebut, akhirnya dengan celingak-celinguk sana sini, lihat tugas temen-temen yang lain, saya bisa menyelesaikannya kebetulan saya bawa laptop ke kampus bisa saya selesaikan sebentar, lalu dengan buru-buru ke kantor sebentar untuk ngeprint tugas tersebut.

Balik dari kantor, saya liat tidak ada yang sedang asistensi dengan dosen tersebut, langsung saya maju kemeja beliau dan memeriksa hasil tugas tersebut, tetapi ternyata lembar terakhir saya salah. Namun cara memasukan rumus-rumus nya saya benar, akhirnya dosen yang banyak orang bilang pelit ngasih nilai itu. menganggap tugas saya sudah selesai dan ACC dengan syarat minggu depan harus dikumpulkan dalam keadaan rapi dan benar. Akhirnya saya bisa tanda tangan di absen UTS mata kuliah tersebut. Dalam hati saya bilang “hari ini menyenangkan” suasana hati terkadang berubah. Tadi saya bilang menyebalkan dan sekarang saya bilang menyenangkan. Terkadang saya juga tidak konsisten dalam perasaan.

Kuliah berakhir jam 17:00 saya dan Defri beranjak dari kelas menuju Mushala kampus. Berniat shalat Ashar dan rehat sejenak dan nanti pulang. Setelah selesai shalat, hal yang sering dilarang di mushala saya lakukan, yaitu tiduran. Tidak berapa lama Andre juga datang untuk shalat lalu saya lihat raut wajahnya, saya teringat lagi sepanjang hari ini selama jam istirahat. Rasanya puas sekali saya mengejek Andre habis-habisan karena Barcelona ngga lolos ke semi final karena kalah sama Atletico Madrid. Andre sudah tidak punya kata-kata lagi karena saya begitu frontal menyerang dia, saya senang sekali mengejek Barcelona dihadapan teman-teman saya yang suka banget sama Barcelona, termasuk abang saya sendiri di kampung.

Sambil menatap langit-langit mushala, saya mengingat kembali kejadian lucu yang terjadi hari ini selama jam istirahat. Becandaan yang selalu lucu setiap minggu nya, banyak juga diantara dosen yang bilang angkatan kita yang “paling” diantara angkatan kelas khusus selama ini, maksudnya paling, yaa paling ribut, paling berani becanda sama dosen, dan paling paling negatif lainnya. Sebuah prestasi yang buruk memang. -__-

Masih didalam mushala dan masih menatap langit-langit mushala, sambil tersenyum hati saya berkata. “hari yang menyenangkan, kuliah yang menyenangkan, teman-teman yang menyenangkan, hari ini begitu menyenangkan”.

Saya, Defri dan Andre berjalan dari mushala menuju parkiran, saya sudah janji dengan Arie bakalan ketemu di parkiran buat ngambil fotokopian, ternyata diparkiran sudah ada Arie, Rian, dan mas Andi. Ngga tau mereka lagi ngomongin apaan. Setelah sedikit becanda sambil ketawa-ketawa semua pada pamit pulang, saya melirik kearah barat, warna langit begitu jingga. Sore ini hangat sekali, sedikit riuh ketawa teman-teman tadi membuatnya semakin hangat, hanya memperlebar senyum saya hari ini. Sekali lagi “Hari ini menyenangkan”.

Saya suka dengan warna sore seperti ini, hangat dan begitu menyenangkan, ditambah berkumpul dengan teman-teman yang ngga pernah ngomong serius, semua hal yang ada di sekeliling kita selalu jadi bahan becandaan. Lalu tertawa sampai puas. Hanya tinggal saya dengan Defri yang tinggal di parkiran, terakhir mas Andi yang pamit dengan mobil mewahnya pulang. Tinggal saya dan Defri, katanya dia pengen manasin motornya dulu baru pulang, tiba-tiba saya ingat Meri, kira-kira Meri udah pulang belum ya? Seperti yang belakangan saya dan Defri sering lakukan becandain Meri. Saya sepakat dengan Defri, saya terlebih dahulu yang menelpon Meri dan menanyakan dia dimana, dan setelah saya selesai menelpon giliran Defri yang menelpon dengan pertanyaan yang sama.

Saya mencoba menelpon Mery, awalnya tidak masuk kedua kali saya ulang juga masuk nada tunggu. Saya coba lagi masih menunggu, beberapa saat kemudian Mery yang nelfon. “kenapa Hana?” Mery selalu begitu memanggil orang seenak dengkul nya, kadang dia manggil Han, kadang Hanafi, kadang Hana, kadang juga Hanap, atau yang membuat saya geli panggilan terakhir yang dia sematkan “Api” *Huweekk*. “Mery dimana?” saya menjawab panggilannya “Mery udah dikos, kenapa emang?” jawabnya “hmm ngga kok, Hanafi cuma mau mastiin, Mery baik-baik aja sampai dikos, Hanafi ngga mau terjadi apa-apa sama Mery”, “Kentuuut” buset dah! Perhatian saya ke Mery malah di kentutin, tapi dari nadanya terdengar sedikit manja sepertinya Mery suka diperhatiin seperti itu, lagian cewek mana yang ngga suka diperhatiin. Lalu saya pamit dan matiin Handphone.

Lanjut giliran Defri yang nelponin Mery dan menanyakan pertanyaan yang sama dengan yang saya tanyakan tadi. Terlihat aneh, tapi saya dan Defri suka menggoda Mery dengan cara seperti itu. ketika Defri sedang menelpon tiba-tiba dari ujung ada yang memanggil saya, nama sebenarnya adalah Hendra, tapi karena dia orang pariaman, kita semua satu angkatan memanggilnya Ajo.

Ajo memanggil saya, dia terlihat berkeringat dingin. Seperti baru menemukan harta karun, memanggil saya dan menolongnya mengangkat harta karun tersebut, saya pikir tadi dia sudah pulang dengan yang lain, saya tidak sadar ternyata Ajo yang sedang jongkok di sudut parkiran seperti sibuk menggali harta karun, saya meninggalkan Defri yang sedang menelpon, mendekat ke Ajo yang masih jongkok persis didepan ban depan motornya.

“kenapa Jo? Manggil-manggil?” saya penasaran dengan apa yang dia lakukan, “tolongin Pi, gemboknya ngga bisa dibuka!” bujug!! Saya pikir kenapa dia memanggil ternyata gembok yang dia pasang di cakram motornya ngga bisa lepas walau sudah memakai kunci asli gembok tersebut. “Ajo, Ajo.. saya pikir mau bagi-bagi harta karun, atau ada rahasia atau apa, tapi ternyata malah gembok motor bermasalah” Ajo diam aja, memasang wajah memelas dan mengiba, seolah mimiknya bilang “Please bantuin gue dulu, gimana gue mau pulang, rumah gue jaoh!”

“Udah ah, saya pulang ya Jo” saya mencoba menggoda Ajo, “woy, temenin saya dulu pi, orang-orang udah pada pulang nih, ntar saya dikira maling lagi” Ajo memelas, saya kasian juga melihatnya yang udah keringat dingin. “Dep, bantuin Dep” saya teriak kearah Defri yang sudah selesai nelfon. “udah ah, biarin aja pulang yuk” kata Defri sambil tertawa, Buset nih anak kejam banget.

Defri datang kepojok parkiran, melihat situasi lalu ngetawain Ajo lagi, ngga liat Ajo udah cemas ngga bisa pulang, keringet dingin dimana-mana. “bantuin dulu dep, saya mau beli minum haus dari tadi ngga minum-minum” saya beranjak kewarung mau beli minum dan bertanya apa ada gergaji buat motong besi sama orang warung, buat motong tuh gembok.

Setelah saya beli minuman dan bertanya sama yang punya warung, dia ngga punya gergaji buat motong besi. Lantas saya lanjut balik ke pojok parkiran, dari kejauhan saya lihat Ajo mengangkat sesuatu dengan girang, alhamdulillah deh masalahnya kelar, dia bisa pulang ke pariaman juga hari ini. Saya mendekat ke pojok parkiran, Defri dengan tega masih ketawa-ketawa ngga jelas, “bisa Dep?” saya bertanya sama Defri “Bisa, tadi dia doa dulu sepenuh hati agar gembok nya ke buka, pas ke buka langsung berdoa lagi teriak-teriak alhamdulillah” kata Defri, saya juga ikut ketawa, ada-ada aja kejadian lucu hari ini, saya lihat Ajo mukanya memerah karena malu dibecandain Defri. Hari ini menyenangkan!

Dijalan pulang saya bareng dengan Ajo, saya nanya apa dia bakalan langsung pulang ke Pariaman, dia bilang mau singgah dulu di Tabing kerumah orang tua angkatnya di Padang. Disimpang jalan saya dan Ajo pisah, saya langsung menuju kantor cabang, ketemu banyak orang dikantor sedang diruang TV nonton rame, saya cek recent bbm update, ada Opa dan Opi sikembar, bisa dibilang adik Ayah saya, tapi mereka seumuran dengan saya, kita beda lahir Cuma dua hari. Saya berteman dengan mereka sejak kecil.

Opa Opi lagi jalan-jalan sore di Taplau, taplau itu tapi lauik bisa dibilang pinggir pantai, diambil dari bahasa minang, bahasa kerennya di Padang, begitu orang-orang menyebutnya. Saya bertanya ke Opa Opi, mereka di Taplau dengan siapa aja, Opi jawab mereka cuma berdua, mereka memang sering kemana-mana berdua, yah namanya juga kembar, mandi aja berdua walau udah gede.

Mereka mengajak saya untuk ikut gabung, waktu Opi mepet katanya ada dinas dirumah sakit nanti jam sembilan malam, saya melesat dengan Bebe dari kantor cabang menuju Taplau, sebentar lagi malam minggu memang, Taplau bakalan macet banget, sesampai daerah Taplau, langit jingga menyambut saya. Dalam hati saya bilang,”hari ini indah banget ya Allah, menyenangkan lagi”.

Hal-hal menyebalkan datang lagi, Bb saya batrenya habis, saya masih belum bisa menemukan dimana lokasi sikembar ini, mereka menjelaskan lokasi dengan sangat tidak jelas. Tidak ada nama warung nya apa, atau deket daerah mana, deket kantor barangkali, atau deket dari taman budaya, mereka sama sekali ngga jelasin dimana mereka berada, akhirnya matahari nyaris tenggelam saya belum bisa menemukan mereka, saya mulai kesal.

Tiba-tiba Opa nelpon, dengan tidak jelas dia menjelaskan tempatnya, saya bilang saya ngga liat motor mereka parkir dimana, lalu Opa bilang dia tidak pake motornya yang biasa hari ini, hari ini bawa “matic” lalu saya bilang sama Opa, “oh yang motor vario ya” saya mulai kesel “motor matic” dan tuuut tuut tuut, telponnya terputus sepertinya mereka tipikal orang yang ngga suka nyebutin merek suatu produk.

Sekali lagi saya ulang buat muter dan nyuruh Opi buat berdiri dipinggir jalan, ngga lama kemudian malah tanpa rasa bersalah Opi ngirim sms “langsung ke siti nurbaya aja, kita makan jagung bakar” buset nih orang, nyesel gue mau ikut, lalu setelah saya muter balik ada telpon dari Opa, “dimana? Kita udah di Jembatan Siti Nurbaya” katanya, lalu saya jawab “Tunggu Hanafi dipinggir jalan, nanti kalo ngga ketemu. Hanafi langsung balik” pura-pura marah beneran.

Akhirnya saya bertemu sikembar ini dijembatan, “mau duduk dimana?” tanya Opi sambil memperhatikan orang yang berjualan jagung bakar sepanjang jembatan. Lalu saya duluan, sambil mencari tempat biasa saya makan jagung bakar sama Ari, Meri, Defri, Firman dulu. Tempatnya ibu Kribo. “wah kemana aja lama ngga kesini” kata Ibu Kribo, “ada buk di Padang” saya jawab sabil becandain Ibu Kribo yang sedikit latah, saya emang suka becanda sama Ibu Kribo kalo kesini.

“oh ya, temen Ipi yang sering kesini dulu kok ngga pernah kesini lagi? Yang kurus tinggi?” ada kata-kata Ibu Kribo yang menarik perhatian saya, Ibu Kribo memanggil saya Ipi, oke. Jadilah disini saya kembar tiga dengan dua orang kembar ini. Opa, Opi dan Ipi. Diluar itu pasti yang dimaksud Ibu Kribo adalah Ari, kalo Ari nyebut Ibu ini Ibu Kibro sih. Iya ya, Ari apa kabar? Entahlah, semoga dia sudah punya pacar disana. Perlu saya tegaskan lagi Ari adalah seorang perempuan.

“ouhh, namanya Ari bu. Dia udah pindah ke Semarang bu, pulang kampung” saya menjawab, lalu Ibu Kibro menatap saya sangat lekat seolah tatapannya berkata “pelanggan setia gue ilang satu”, “Dia sering kesini, sendirian, kadang cuma makan Jagung satu” entahlah, jangankan Ibu Kibro saya juga ngga mengerti, kenapa Ari suka banget pergi sendiri, saya juga pernah bertemu dia di warung pecel lele, kami tidak janjian, saya pergi sendiri, dan dia sendiri dan bertemu di warung itu. dan akhirnya tetap sendiri-sendiri.

Tapi sumpah, waktu itu matahari belum benar-benar terbenam sempurna, masih ada beberapa warna jingga yang bercampur merah berserakan dilangit senja itu. lampu jembatan juga belum dinyalakan, saya sempat mengabadikan beberapa potretnya.

Amatir memang
Seperti biasa, saya becanda dengan dua orang saudari kembar saya, setelah beberapa saat yang lalu Ibu Kibro menobatkan nama Ipi buat saya. Setelah dari sana, Sikembar ngajak saya buat makan bakso di daerah Jati, saya tidak mau menyebutkan tempatnya, karena sikembar ngga suka menyebut merek, ngga nyambung emang, bodo amat, udah jam setengah dua pagi saya masih mengetik ini. Tapi hari ini benar-benar menyenangkan.

Selesai makan bakso, jam delapan malam, Opi mau pulang ganti baju dan Dinas malam di Rumah sakit, saya juga mau pulang, karena ini malam minggu, bukan malam untuk para jomblo jadi saya memutuskan untuk pulang. Sikembar juga pulang, sampai dirumah saya ketemu Yunan, dia pindah dari kamar atas kekamar bawah, karena sebentar lagi abis nikah bulan depan dia mau bawa istrinya dari jawa kesini. Trus dia mutusin buat ngambil kamar sendiri dibawah, saya liat Yunan baru saja beli TV 3D, lalu cerita tentang kekonyolan Pak Nafis baru nonton film 3 dimensi dengan kacamata, sampe kaget dan bikin sales TV nya ngakak. Hari ini menyenangkan.

Dan entah kenapa malam ini, Yunan ngajak minum Kopmil Om Ping, yang baru saja buka cabang deket dari Rumah, tempatnya yang sekarang juga keren buat tempat nongkrong, sampai disana ada tempat yang memang bisa buat berdua, namun ada handphone yang lagi di cas di mejanya, lalu orang yang biasa duduk dikasir, ngomomg sama salah seorang tamu “Rian, itu handphone kamu bukan?” lalu tamu itu menoleh kebelakang, Fedi Nuril saya berkata dalam hati, hmmm Rian? Wajahnya? Seperti familiar di ingatan saya, siapa Pria mirip Fedi Nuril ini, dia duduk bersama 5 orang temannya, jumlah mereka enam. Lalu ketika saya pikir-pikir lagi saya jadi ingat, saya pernah baca blog dia, kenapa saya bisa baca blog dia, karena dia admin di sebuah group atau komunitas blogger minang yang terkenal dengan nama “PALANTA”, bagi saya jika ada seorang blogger, lalu dia dipadang atau sumbar. Pasti tau dengan yang namanya palanta, sering masuk Koran dan Radio.

TEKAPE
Saya cerita ke Yunan, tentang orang berkacamata itu, tentang komunitas itu. lalu Yunan Cuma bilang, “ya udah kesana” katanya santai, “kampret, ntar kalo aku kesana terus jadi garing gimana?” saya mencoba bayangin apa yang akan terjadi kalo saya kesitu dan mencoba sok tau.

Saya       : mas, yang punya blog Uda Rian kan? Ini Komunitas Palanta kan
Rian       : iya, terus kenapa? Ada masalah mas?

Oke, saya mencoba menepis bayangan itu, dia bukan tipikal orang seperti itu. hampir setengah jam saya mengumpulkan keberanian buat membaur dengan enam orang itu, padahal cuma mau berkenalan, tapi kenapa saya jadi dag dig dug. Kenapa?

“udah Nan, balik yuk” saya mengajak Yunan buat pulang, “aku sapa mereka pas mau pulang ngga apa-apa kali ya Nan” saya melanjutkan, “ya ngga apa-apa” kampret! Ini orang datar banget reaksinya.

Sambil jalan keluar, dari belakang saya memegang pundak pria yang dipanggil Rian tadi, “mas, yang punya blog Uda Rian ya?” lalu dia menatap kearah saya “Iya” jawabnya pendek sambil sedikit tersenyum, saya lihat 5 orang lainnya menatap sinis sama saya, “kampret! Mati gue, kan garing kan!” umpat saya dalam hati. Lalu saya menunjuk meja, "ini Palanta ya?" Lalu tiba-tiba semua tersenyum sambil teriak “Iyaa” lalu tetap tersenyum, oke jawaban “Iya” kedua, apa selanjutnya.

“hmm, saya juga anggota palanta sih, di group facebook” langsung tiba-tiba Rian bilang, “waah, kenalan dulu dong” sambil mengulurkan tangan “yuk yuk gabung disini” yang lain menimpali ucapan Rian oke, mulai ngga garing. Saya menyebut nama sambil berkenalan dengan mereka semua, “Rian”, “Ivan”, “Mahlil”, “Titi” Okee orang yang menyebut namanya Titi ini juga begitu familiar di otak saya, saya pernah melihat beberapa fotonya di group. “lala”, “Fia, pake “F” ” katanya “Fanta ya?” saya bertanya “yap” jawab Fia yakin.

“eh, kok bisa kenal sih?” Fia yang mulai sebuah topik awal sebuah kehangatan jalinan persahabatan baru. “hmm, saya liat Rian tadi, kok wajahnya familiar ya?” kata saya sambil menunjuk Rian, lalu yang lain berteriak menggoda Rian, “Cieeee terkenal” beberapa saat terdengar mahlil bilang “5 cm”, katanya sedikit berteriak. “wah bener, Fedi Nuril” saya juga sedikit menggoda, yang lain semakin beringas menggoda Rian. Saya ngga nyangka baru kenal begini langsung sedikit akrab dan terasa hangat.

Saya cerita tentang dulu mau ikutan buka puasa bareng di sebuah rumah makan sebut saja “Kakiku” tapi ngga jadi, dulu juga ada acara On Air disebuah stasiun radio, saya juga pengen ikut, tapi ngga jadi juga karena saya lupa, saya memang pengen kenal dengan mereka yang aktif menggerakkan organisasi ini, tapi bakalan aneh jadinya kalau ngajak kenalan di media sosial. Tapi malam ini saya dipertemukan dengan mereka, aneh rasanya, seperti ada yang mengatur, tapi ini cuma berjalan apa adanya.

“hmm saya mau balik, boleh kan ntar kalo pada mau ngumpul lagi saya ikutan, boleh minta contact personnya ngga?” saya bertanya “nah ama ini aja nih, yang sering aktif” kata Rian sambil nunjuk Fia, disela itu terdengar Titi bilang “We a, We a” dalam hati saya bilang We a udah saya nonaktifkan. “eh besok datang aja ke sipp female radio, kita On Air jam 11” ucap Fia sambil menyimpan nomor handphone saya, “hmm jam sebelas apaan nih? Pagi?” saya bertanya, “iya” yang lain serentak menjawab, “hmm besok saya kuliah kayaknya ngga bisa deh, lain kali yah? Hubungin aja kalau mau ngumpul lagi” saya berucap sambil pamit.

Sampai dirumah, tangan saya gatel mau nulis, oh tuhan hari macam apa ini? Jam istirahat yang menyenangkan, UTS yang menyebalkan namun pada akhirnya menyenangkan, lukisan senja yang menyenangkan, dan enam teman baru yang menyenangkan, malam minggu yang juga menyenangkan untuk seorang jomblo. baru kali ini saya bisa nulis 3000 kata lebih kejadian yang tejadi dalam sehari.

What a beautiful day!

Alhamdulillah

Jumat, 31 Januari 2014

Awal Tahun Akhir Januari

Disuatu sore tanggal 28 Januari 2014.
Mungkin ini saatnya berevolusi, sebelumnya saya pernah menulis tentang Aku, Saya, Ane, Gue & Blog perihal seberapa nyaman kita menyebut diri kita sendiri dalam tulisan. Dan sore itu saya membuka google chrome, browser yang biasa saya gunakan. Yang membuat saya nyaman disitu, ketika saya log in di account google saya dikomputer manapun pasti alamat web yang saya bookmark tercantum disitu. Dan ada sebuah bookmark alamat blog seseorang yang saya suka, lalu saya buka dan membaca tentang tulisannya yang baru di publish kemarin. Saya memang suka terbuai dengan kata-kata yang dia tuliskan. Dari sana saya baru sadar, betapa indahnya bahasa Indonesia yang baku. Tidak ada kata-kata gaul didalam tulisannya itu. kata tunjuk untuk dirinya sendiripun bukan aku, ane ataupun gue tapi “saya”.

Hal ini membuat saya berfikir, bagaimana jikalau postingan pertama saya ditahun 2014 ini, penggunaan kata aku akan saya rubah menjadi “saya” dan lebih banyak menggunakan bahasa yang baku untuk bercerita. Sedikit perubahan, rasanya penggunaan kata aku terasa sedikit feminim dan terlihat kekanakan.

Sebuah foto dengan Tiga buah Undangan
Rasanya lucu, ketika tiba-tiba saja undangan atas nama saya diserahkan. Diundangan itu tertulis jelas nama saya diundang untuk sebuah pesta pernihakan. Dari dulu saya masih merasa saya adalah seorang anak kecil. Apakah hari ini saya cukup dewasa untuk menerima sebuah undangan yang memang ditujukan untuk saya?. Entahlah, dari tiga buah undangan itu, ada pernikahan yang bisa dibilang pernikahan dari 3 generasi juga. Pertama undangan pernikahan bang Ar, biasa saya dan karyawan lain memanggilnya. Rasanya bang Ar sudah seperti abang saya sendiri, saya sangat akrab dengan dia.

Yang kedua undangan dari teman saya satu angkatan lulus di SMK dulu, dan seangkatan juga masuk dalam perusahaan ini. Namanya Rendy, orang yang bisa saya bilang sedikit tidak konsisten. Karena saya kecewa, beberapa tahun yang lalu jelas-jelas dia membuat sebuah status di account media sosial yang dia punya, “Mulai hari ini, Rendy Bukan Lagi seorang Perokok” dan beberapa hari kemudian, ketika saya berkunjung ke kantor cabang Padang dari proyek di Bukittinggi Rendy merokok.

11 Januari 2014, tepat pada hari sabtu, semua orang dikantor sudah merencanakan akan berangkat ke resepsi pernikahan Rendy. Ada yang janji berangkat siang-siang. Beberapa orang juga mengajak saya untuk ikut rombongan ke pesta pernikahan Rendy, tapi saya sudah membuat janji dengan Defri dan Firman, akan datang ke resepsi Rendy sepulang dari kampus nanti, UAS di Januari membuat saya sedikit gila dengan gelombang pekerjaan yang sedang pasang naik.

Saya, Defri, Firman dan Rendy satu angkatan masuk dalam perusahaan ini, sama-sama mendaftar, sama-sama test, dan sama-sama training. Jadi setidaknya kami punya ikatan yang lebih dibanding karyawan yang lain. Yang membuat ini sedikit lucu ialah, diantara kami yang ditempatkan di sumatera, Rendy orang pertama yang melepas masa lajangnya. saya hanya bisa senyum-senyum seakan tidak percaya, Rendy punya mental baja untuk melamar anak gadis orang dengan umur yang memang masih tergolong muda. Prediksi pak Joko tentang siapa diantara kami yang akan duluan menikah salah. Dulu pak Joko bilang Firman duluan yang akan menikah, dan ternyata salah. Firman di duluin sama Rendy.

dari kiri : Firman, saya, Rendy, Istri Rendy & Defri (seperti foto bola -_-)

Saya suka berteman dekat dengan seseorang, termasuk Rendy. Walau saya satu sekolahan dengan Rendy selama 3 tahun beberapa tahun yang lalu, saya baru mengenalnya ketika telah masuk perusahaan ini. Saya sering sekali menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengobrol dengan Rendy. Karena faktor jarang bertemu mungkin.

Dan hari itu, ketika saya dan teman-teman yang lain ingin pulang. Saya dan teman-teman mendekati Rendy, hendak bersalaman dan memberi selamat. Sekaligus sesi dokumentasi. Saya berdiri disamping Rendy. Lalu tiba-tiba Rendy berbisik. “Fi.. katanya dulu mau kawin muda! Kapan?”.

Jederrrr!!!! Suara petir disiang bolong, setelah saya perhatikan ternyata itu hanya kilat cahaya flash kamera yang sedang memotret momen-momen kami. Saya lantas diam, lalu senyum kecut. Untuk hal seperti ini ternyata Rendy sangat Konsisten! Ingatan saya melayang lagi disebuah warung didepan SMA 2 Padang, disuatu sore ketika jam pulang kantor. Rendy minta tolong diantarkan ke jalan Juanda untuk naik angkot pulang kerumah. Dan ketika sampai disimpang itu Rendy mengajak untuk mengobrol dahulu sebelum dia pulang.

Entah apa cerita yang kami bahas waktu itu, yang jelas saya pernah bercerita padanya. Saya ingin kawin muda, bahkan saya sudah bilang pada Ayah. Dan Ayah bilang “apa Hanafi sanggup?” lantas Ibu menyahut “Iya apa Hanafi udah bisa ngasih makan anak orang?” Ayah tidak setuju dengan pendapat Ibu, lalu Ayah menyangkal kembali “Apa Hanafi sanggup secara bathin? Kalau ngasih makan anak orang mah gampang” kata Ayah waktu itu, mungkin waktu itu yang Ayah maksud dengan sanggup secara bathin adalah tanggung jawab dunia akhirat. Saya lantas diam, yang ada dihati saya waktu itu hanya ingin Nikah diusia muda, tanpa memikirkan lagi kedepannya.

Yang tidak saya sangka, Rendy masih ingat dengan semua percakapan itu, tentang Nikah muda dan semua tetek bengek yang pernah kami ceritakan beberapa tahun yang lalu. Dan boomerang yang saya lempar dulu berbalik arah dan menyerang saya sendiri hari itu. terima kasih Rend atas tamparannya, sepertinya saya tidak begitu konsisten dengan ucapan saya. Hari itu Rendy hanya mengingatkan saya tentang Janji-janji dan keinginan saya dulu ketika masih bersekolah. Keinginan nekat tanpa ada perhitungan.

Terakhir yang saya tau, Ibu pernah berpesan. “bahagiakan orang tua dahulu fi, baru menikah. Jika telah menikah akan banyak lagi orang-orang yang akan kamu bahagiakan”. Dan ini sempat membuat saya kembali memikirkan matang-matang, kapan saya akan menyusul Rendy. Lagipula sampai hari ini, saya belum menemukan wanita yang benar-benar membuat saya jatuh cinta. Saya tidak tau, apakah harus mencari atau menunggu. Yang saya tau, saya ingin berlindung dibalik doa Ibu, doa Ibu yang nantinya akan menemukan saya dengan wanita yang saya cari atau tunggu selama ini. Bahkan dijodohkan pun buat saya adalah sebuah pilihan. Ketika hanya itu jalan yang membuat Ayah dan Ibu bahagia.

Ketiga, atasan saya diproyek dan rekan kerja diproyek. Pertama saya perkenalkan dahulu. Rekan kerja saya Luthfi orang Brebes, saya kenal dengan dia di Medan. Saya memang sering sok akrab dengan orang-orang terkadang. Termasuk dengan Luthfi, saya mengenalnya juga baru-baru ini setahun atau lebih. Tapi saya akrab sekali dengan dia. Awal berteman dengannya sedikit lucu, memperbincangkan masalah bola. Saya suka bola dan dia suka bola. Saya suka Real Madrid dan dia suka Barcelona, dan kami berantem.

Di Medan, jadwal Futsal dibelakang kantor sore itu. Luthfi mengajak saya ikut main, karena di kantor Medan perlengkapan Futsal lengkap sekali, mulai dari lapangan rumput asli, sampai jersey dan rompi lengkap disana. Saya sok-sok an ikut bermain. Hal yang Luthfi tidak tau dari saya adalah, saya suka bola dan saya tidak bisa bermain bola. Alhasil cerita ini hanya menjadi sebuah cerita perkenalan tersendiri buat Luthfi. Karena terakhir ketika kami sering berkumpul sekedar menikmati segelas kopi dan gosip-gosip yang mengambang. Terlontar dari mulutnya “saya pikir dia bisa main bola, eeeeeeee ternyata!!” lalu saya tertawa. Sulit untuk mengerti saya memang.

24 Januari 2014, disebuah hari raya kecil untuk yang berpuasa dihari senin kamis. Luthfi menikahi atasan saya, namanya Ie ie. Saya biasa memanggilnya Uni. Karena dia orang minang dan tidak fasih bahasa minang. Entah apalah itu namanya. Kamis malam beberapa hari sebelum hari itu, saya, bang Ar dan Gadis. Sibuk hilir mudik mencari-cari kado apa yang tepat untuk hadiah pernikahan mereka. Rekan kerja sekaligus sahabat, sahabat yang sangat dekat. Saking dekatnya niscaya kami akan dibunuh dengan cara mengenaskan bila tidak datang ke resepsi pernikahan mereka.

Foto Resepsi macam apa ini?
Sehabis shalat magrib dikantor, kami bertiga jalan-jalan keluar mencari ide. Kado apa yang tepat, dan akhirnya pusing sendiri, malam itu tidak menghasilkan apa-apa. Yang kami dapat malam itu hanya, sepotong ayam goreng di sebuah restoran cepat saji dan rencana liburan di Padang Panjang, tempat resepsi pernikahan itu diadakan. Kami berencana akan menginap semalam di Padang Panjang menikmati sensasi dinginnya dan berenang dihari minggu di waterpark yang ada di kota itu. saya punya satu mimpi. Ingin punya rumah di kota itu.

Hari yang ditunggu datang, hari itu 25 Januari 2014 dan bertepatan dengan hari sabtu, hari terakhir Uas. Mau tidak mau, saya harus menunda keberangkatan ke Padang Panjang sampai sore, karena ujian terakhir jam 3 sore. Gadis sudah duluan pergi bersama Pak De, sekalian menjeput mbak Sarah dari jakarta dan mbak Ria dari medan, yang juga sengaja datang untuk acara resepesi pernikahan Uni dan Luthfi. Saya Defri dan Firman juga telah sepakat untuk menyelesaikan Ujian terlebih dahulu sebelum berangkat, dan saya juga mengajak Mery untuk ikut. Karena kebetulan saya dan teman yang lainnya sengaja menyewa sebuah mobil untuk pergi ke Padang Panjang. Sore setelah ujian selesai saya, Defri, Firman dan Mery berangkat ke Padang Panjang.

Perihal mitos suku “jambak”, di Minangkabau ada sebuah suku bernama jambak, mitos yang beredar tentang suku itu ialah, ketika orang yang mempunyai suku Jambak mempunyai hajatan niscaya akan turun hujan. Tapi entahlah, apakah itu pertanda rezeki yang turun dari langit. Atau memang  Padang Panjang kota hujan. Yang jelas saya dan yang lainnya disambut meriah oleh hujan ketika sampai di kota Padang Panjang dan kebetulan orang tua uni, atasan saya punya suku Jambak.

Saya dan bang Ar janjian didepan gang masuk ketempat diadakannya Resepsi. Bang Ar mengendarai mobil sendiri, dan kami barengan masuk kedalam. Ada lima buah kado besar didalam mobil, masing-masing kami membawa satu kado, bungkus kado tersebut mempunyai motif yang sama, sebagai pertanda ini kado kami bersama.

Hari sabtu itu semakin menua, aku sempat menyanyikan dua buah lagu di resepsi itu, mbak Ria, mbak Sarah dan Gadis sudah capek, seharian di tempat itu, mereka mengajak saya untuk segera istirahat di penginapan yang sudah di booking oleh Gadis dihari sebelumnya. Kami menyewa sebuah guest house, untuk menginap semalam dan malam itu kami sembilan orang, Saya, Defri, Firman, Mery, Gadis, bang Ar, Yunan, mbak Sarah dan Mbak Ria. Jalan-jalan ke Bukittinggi, saya yang nyetir dan sempat menabrak pengendara motor yang galau tidak tau tujuan motornya sehingga tertabrak dari belakang, tapi syukur tidak ada korban.

Ritual jalan-jalan di Bukittinggi sudah jelas, ke Jam Gadang. Lalu dokumentasi narsis-narsis lalu cari makan. Yang membuat saya rindu ialah, kami makan seafood dipinggir jalan didaerah Pondok, beberapa tahun yang lalu ketika saya masih dinas di proyek yang dekat dari Bukittinggi ini, saya senang sekali makan seafood disitu. Aroma malamnya, dinginnya, suasananya membuat saya rindu ingin berkumpul kembali dengan tim proyek tersebut.

Foto bareng Mery, Gadis dan Jam Gadang
Diperjalanan pulang dari Bukittinggi ke Padang Panjang, lagi-lagi diguyur hujan. Rasanya semakin dingin, membuat saya ingin tidur lebih cepat dan bersiap untuk besok berenang seharian.

**

Mungkin Yunan, bang Ar, Gadis, Mery dan yang lainnya tau bagaimana kelakuan saya. Mereka sudah pasti tau bagaimana menghadapi saya. Tapi tidak dengan mbak Sarah dan Mbak Ria, saya kenal dengan mbak Ria hanya sebatas rekan kerja. Jarang sekali saya bercanda dengan mbak Ria. Terkadang ketika saya ke Medan pun sesekali, saya tidak pernah membicarakan hal lain dengan dia jika bukan masalah kerjaan. Tapi entah mengapa hari itu rasanya keakraban itu terjalin. Hari itu rasanya bukan seperti jalan-jalan dengan rekan kerja, tapi memang serasa jalan-jalan dengan teman-teman dekat.

Begitupun dengan mbak sarah, sebelum di Padang Panjang, saya tidak pernah berbincang sepatah katapun dengan dia. Beberapa kali saya pernah bertemu dengannya di Medan, tapi saya tidak ngobrol dengan dia. Karena saya dibagian Teknik dan dia Finansial, rasanya tidak ada yang perlu dibincangkan. Sesekali terkadang Uni sering cerita tentang keakraban dia dengan mbak Sarah. Tapi saya tidak menyangka orangnya sengocol itu, ramah dan walaupun becandaannya keterlaluan tapi lucu, meskipun dengan orang-orang yang baru dia kenal.

Hal itu yang selalu membuat suasana pecah, mulai dari malam sesampainya di guest house sampai seharian bermain di waterpark dan lanjut kepadang sekedar mencari durian. Dan berakhir dibandara mengantar mbak Ria dan mbak Sarah balik lagi, kehabitat mereka masing-masing.

Hari minggu itu ketika berada di Mifan, karena katanya Handphone saya tahan terhadap air saya coba untuk mengabadikan momen-momen ketika berenang, saya bawa handphone itu berenang. Dan Yunan senang sekali merekam video didalam air.

entah apa yang dilakukan Yunan dan Defri
Bang Ar, Mbak Sarah, Mbak Ria
Gue sama mbak Sarah

mbak Ria sama Yunan

Yunan, mbak Ria, Gue, bang Ar, Firman

Firman, Ria, Sarah

Dua orang ini memang selalu mesra Yunan <3 defri="" td="">

Entah apa ini!

Capek abis mandi

Didepan Rumah Gadang

Rumah Gadang

Defri Foto Bareng Tika Pangabean Project Pop

Nganter Mbak Ria ama Mbak Sarah ke Bandara

yang satu ke Medan, satu ke Jakarta

Hari itu menyenangkan, yang tidak menyenangkan hanyalah. Capek berlibur 2 hari itu. senin harus kembali berjibaku dengan tumpukan design Retaining Wall yang masih belum selesai saya kerjakan. Akhirnya beberapa bulan vakum, saya bisa lagi menulis 4 halaman sebanyak lebih dar 2000 kata.

Dan selamat menempuh hidup baru buat teman-teman semua yang menikah di bulan januari ini. Selamat buat bang Ar, uni Ie dan Luthfi, serta Rendy. Semoga langgeng rezekinya semakin banyak. Tinggal kita menunggu sembulan bulan dari sekarang siapa yang paling perkasa.

Dan tentang tiga buah undangan itu. terimakasih sudah menyematkan beberapa titel yang belum saya punya. Mungkin semua orang sudah pada tahu saya orang yang senang bercanda. Sehingga undangan untuk saya pun dibecandain. Tapi mudah-mudahan tercapai Haji dan embel-embel sarjana yang disematkan disitu walau niatnya bercanda. Untuk Luthfi dan uni Ie, saya masih belum bisa terima. Nama saya di KTP “Hanafi” bukan Hanafi Chaniago. Rasanya saya datang keresepsi itu seperti mewakili Hanafi Chaniago. Entah siapa itu orangnya. Tapi tidak apa-apa kalau memang niatnya untuk mengundang saya. Saya anggap itu juga sebagai sebuah becandaan. Orang jelas-jelas undangan itu ditujukan kesaya.

Saya anggap embel-embel itu doa, AMIN :)

Pernikahan siapa selanjutnya? Saya kapan nikah?

Entahlah semakin hari ini akan semakin rumit.