Jumat, 13 Maret 2015

Lucu

Ada banyak hal terkadang didunia ini, yang dalam rentang waktu yang sangat sedikit, sesuatu hal dapat berbalik atau berubah arah, dan semua bisa saja terjadi dalam seketika, bahkan dalam satu kata ucapan, bahkan dalam satu milidetik, bahkan mungkin lebih singkat lagi.

Dulu, ada seorang anak yang baru masuk setelah masa orientasi sekolah telah berjalan nyaris setengah minggu. Sumpah gayanya belagu banget, atau mungkin cuma waktu itu hanya saya yang merasa demikian, dia ngga mungkin bisa rasain kalo dirinya semenyebalkan itu dimata saya. Rambutnya dicat berwarna kekuningan, dari face-nya emang ganteng banget sih, karena sampai pada akhirnya nanti dijurusan ngga populer yang saya punya hanya satu kelas sampai ke kelas 3, itupun bersyukur bisa lulus dengan siswa sebanyak 20 orang, padahal sekolah bertaraf internasional, tapi jurusan saya minoritas, dan beliau yang punya rambut kuning ini kelak bakalan jadi orang paling ganteng di kelas saya selama 3 tahun.


Kamis, 29 Januari 2015

Dua Ribu Empat Belas – Chapter I

Tadaaa!!!, buset dah, ini waktu cepet banget jalannya, ngga kerasa januari pun udah mau pergi sekarang, nunggunya setahun pas udah dateng cuma sebulan doang nah pergi lagi dianya. Ngga ada resolusi apapun ditahun ini, toh kata ulama gitu “Percuma merisaukan masalah pergantian tahun jika setiap tahun yang kita lalui bakalan sama aja” jadi, bukannya ngga mau bermimpi atau terlalu realistis. Sesekali ngga ada salahnya juga kan? Membuat hidup satu tahun itu mengalir begitu saja.

Mau nikah, kayaknya kecepetan dan belom ada wanita yang mau saya ajak nikah, mau wisuda di semester ini juga kagak mungkin, jadi kepala proyek dengan keadaan semacam ini juga ngga mungkin. Jadi, cukup lakukan yang terbaik untuk semua kegiatan, pekerjaan dan edukasi yang tengah saya lalui. Setidaknya hal paling realistis di dunia ini seperti hukum sebab akibat itu nyata bentuknya. Jika lakukan yang terbaik, InshaAllah dapat hasil yang baik juga. Amin.

Kamis, 11 Desember 2014

Dekat

Teng teng teng, tiga kali lonceng berbunyi di siang panas begini sudah pasti itu tandanya akan pulang, proses belajar mengajar yang tadi tenang tiba-tiba menjadi berisik, ada yang mengemas buku-buku bahkan sebelum guru didepan memberi aba-aba apakah sudah boleh berkemas dan boleh pulang atau tidak.

Setidaknya itulah momen paling menyenangkan selama 12 tahun belajar di sekolahan. Jam pulang sekolah, yang padahal sebenarnya ketika kita sudah sampai dirumah, malahan bingung kegiatan apalagi yang bakalan dilakukan. Dan rindu lagi balik ke sekolahan. Sifat manusia seperti ini yang saya ngga ngerti, sama halnya dengan ngga ngerti dengan kemauan diri sendiri itu apa.

Rabu, 19 November 2014

Cerita Merapi #2 Chapter 2

Jam di handphone masih menunjukkan pukul empat pagi, dari tadi bang Ade sudah teriak-teriak bilang kalo mau tidur dirumah aja. Dan semua orang bangun keluar dari tenda dengan mata merah dan disipit-sipitkan ketika melihat cahaya dari senter kepala, sumber cahaya satu-satunya diatas gunung hutan begini.

Dalam hati saya bergumam, meski sudah terbakar semangat akan menuju puncak “ini seriusan jam segini udah mau jalan ke puncak?” beberapa diantara kami saling bertanya, butuh waktu berapa jam dari Pintu Angin ini menuju puncak tertinggi merapi yaitu puncak merpati, bang Ade bilang 4 jam. Kalo begitu udah jam 8 dong kita baru nyampe puncak, ngga bisa liat sunrise dong.

Senin, 13 Oktober 2014

Cerita Merapi #2 Chapter 1

Hari itu minggu, 20 april 2014. Beberapa bulan yang lalu saya dan teman-teman sedang berada di sebuah pulau namanya pulau tangah di kota Pariaman. Ceritanya ada disini, waktu itu ada saya, Bang Ade, Defri, Mery, Gadis dan Andre. Kita sedang menikmati makan siang, karena memang sudah jadwalnya makan siang.

Beberapa minggu sebelumnya, saya sudah mengajak mereka kecuali bang Ade untuk mengunjungi tempat yang mungkin lebih ekstrim lagi. Biasanya kita hanya pergi berwisata yang biasa saja, semacam di pantai atau ke pulau seperti yang sedang kita lakukan. Untuk saat itu saya mengajak mereka untuk mendaki salah satu gunung yang ada di Sumatera Barat, sebagian dari teman-teman saya menolak, karena diantara kami tidak ada satu orang pun yang punya pengalaman mendaki gunung.

Tapi hari itu, saya mencoba kembali mengajak teman-teman saya untuk mendaki gunung, tepat didepan orang yang benar-benar punya banyak pengalaman tentang mendaki gunung, yaitu bang Ade seperti yang saya ceritakan dipostingan sebelumnya.