Senin, 21 Juli 2014

Sepeda - Chapter I

# Tentang Ayah, Ibu,  dan Cinta

Mungkin ada beberapa dari kita yang bisa mengingat sebuah rekaman tentang Ayah dan sepeda, saya rasa semua manusia punya kenangan itu. Buat mereka yang punya sedikit keberuntungan, ketika diberi kepercayaan untuk menjalankan sebuah skenario hidup masih punya kedua orang tua sampai saat ini. Alhamdulillah sampai hari ini Ayah dan Ibu saya masih sehat dan selalu menelpon disetiap pagi mengingatkan hari ini sudah dimulai “persiapkan diri kamu nak”. Walau pada akhirnya di ujung pembicaraan saya tertidur lagi karena mengantuk keseringan begadang, terkadang hanya untuk hal yang sama sekali ngga penting.

Beberapa bulan lalu, keponakan pertama saya yang masih berumur 5 tahun. Yang ngga pernah suka jika harus mengobrol dengan saya jika ditelpon. Ketika itu saya sedang berada dirumah menginap semalam, udah beberapa minggu ngga pulang dan kebetulan saya disuruh standby di proyek sama bos, kesempatan banget buat bisa pulang dan tidur dirumah, karena proyek lumayan deket dari rumah saya.

Saya menghela nafas panjang sambil terus berjalan malam itu dirumah, sepi banget rumah ini sekarang, hanya tinggal Ayah dan Ibu. Abang saya yang paling gede udah punya rumah sendiri di kampung istrinya. Uni juga ikut suaminya ke Jakarta, Saya sudah 7 tahun ngga dirumah, palingan dalam setahun saya hanya sebulan paling lama di rumah, sedangkan Ika adik perempuan saya satu-satunya memilih buat pindah sekolah ke padang.

Ayah masih duduk di meja kasir meski warung sudah ditutup, Ibu tiduran didepan televisi. Ruko dua pintu yang dibuat Ayah untuk beliau berdagang membuka warung di kedua pintunya, sekarang satu pintunya sudah tergusur oleh Uni yang tiba-tiba pengen buka Toko Baju di situ, jadi sekarang Ruko yang juga dijadikan tempat tinggal ini, terasa rada sempit. Saya baru saja memasukkan motor kedalam rumah, yang akhirnya terasa makin mempersempit ruangan.

Beberapa tahun terakhir memang seperti itu ritualnya, saya akan mulai menceritakan pada Ayah dan Ibu. Sudah sejauh apa saya berjalan, apa saja yang telah saya liat, apa saja yang telah saya pelajari diluar sana selama nyaris tujuh tahun saya sudah tidak begitu ketat dalam pengawasan beliau berdua. Saya jujur menyebut semuanya, kadang ibu marah dengan keputusan yang saya buat, tapi saya bisa menenangkan Ibu dengan menjelaskan langkah apa saja yang telah saya perbuat.

Sampai pada akhirnya, Saya yang bertanya pada Ayah dan Ibu. Kejadian apa saja yang telah terjadi di kampung, siapa saja penduduk-penduduk baru yang datang di kampung yang datang maupun terlahir, dan siapa saja yang lebih dulu meninggalkan kami. Kadang warna dirumah muram ketika hanya ada Ayah Ibu dan Saya dirumah, bercerita tentang mereka-mereka yang telah meninggalkan kami.

Lalu diujung cerita itu pasti kami, selama lima tahun ini bercerita tentang bagaimana perkembangan cucu pertama Ayah dan Ibu, Keponakan pertama saya. Perkembangan apa saja yang telah dialaminya, apa saja kejadian dan kata-kata lucu apa saja yang melompat dari mulutnya begitu saja. Sampai tengah malam itu akan terus terjadi setiap saya pulang, dari kecil saya memang ngga punya kamar, saya selalu tidur didepan TV, walau Ayah dan Ibu tidur di kamar dan saya tidur didepan TV, Obrolan itu akan terus berlanjut sampai kantuk merundung kami. Dan terlelap dalam kata-kata yang belum sampai dan langsung terbawa mimpi.

Aroma kopi buatan Ibu selalu sama disetiap paginya, panggilan Ibu membangunkan saya untuk Shalat subuh selalu begitu bertahun-tahun, Ibu selalu beri dispensasi untuk tidur lagi kalo udah selesai Shalat Shubuhnya, dan setiap paginya selalu begitu, saya Shalat dan berniat untuk tidur lagi, tapi obrolan Ayah dan Ibu selalu asik untuk ikut nimbrung didalamnya, obrolan yang dimulai jauh tadi ketika saya masih bermimpi.

Entahlah, Ayah Ibu ngga pernah habis bahan untuk mengobrol satu sama lain bertahun-tahun, Ayah yang asik dengan secangkir kopi di singgasananya pagi itu, dan Ibu yang sibuk dengan semua persiapan sarapan dan bekal yang akan dibawa Ayah nanti, bekal kemanapun Ayah akan pergi, entahkah bertukang, kekebun atau kemanapun Ayah mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Karena pagi seperti ini selalu terjadi dan saya merekamnya dengan begitu jelas setiap pagi, dimulai ketika saya sudah pandai berbicara dan memanggil lelaki kurus berkumis itu dengan sebutan Ayah, dan yang tadi menyiapkan secangkir kopi dan masih sibuk di dapur itu dengan sebutan Ibu.

Cinta mungkin, yang membuat pagi-pagi yang saya rekam itu terasa manis. Sebenarnya saya ingin menulis kisah tentang sepeda, tapi entah kenapa untuk menulis kisah itu hati saya berkata saya harus tulis tentang Ayah, Ibu, Saya, segelas kopi dan kebul asap dapur di pagi-pagi ketika saya bangun dirumah. Saya ingin pastikan, cinta yang membuat mereka untuk tetap bisa, berbagi cerita tentang manis dan pahit kehidupan yang telah mereka telan mentah-mentah, mungkin untuk mereka, atau untuk kami anak-anaknya. Saya sudah sangat sering menulis, “Ayah yang mengangkat saya tinggi-tinggi, sehingga saya bisa menggapai semua yang ada di angan saya”. Ya, saya sangat yakin itu cinta.


Dan tentang sepeda, ada di cerita-cerita malam itu.


Senin, 30 Juni 2014

Long Weekend chapter II

Tahun ini bener-bener tahun Mother of Long Weekend. Belum hilang bias-bias kebahagiaan long weekend sebelumnya di penghujung bulan maret, eh pertengahan bulan april datang lagi long weekend. Cerita di long weekend sebelumnya pergi sama temen-temennya Mery ke Nyarai. Nah beda lagi dengan jalan-jalan yang ada di long weekend satu ini.

Hari pertama di hari jumat tanggal 18 April 2014, membuat saya melampiaskan waktu tidur saya sampai siang. Dikarenakan saya hanya tidur 3 jam saja di hari sebelumnya karena pengen nonton laga pamungkas Copa del Rey 2014 antara Barcelona vs Real Madrid, tapi sumpah saya ngga nyesel. Karena Barcelona pupus dari harapan juara musim ini, di Liga Champion sudah kalah sama Athletico Madrid, di Liga Spanyol juga sudah tidak ada harapan lagi. Ngga dapat gelar apa-apa Barcelona tahun ini. Hahahahaha sebagai seorang Madridista saya senang sekali.

Sehabis mandi, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar saya. Ternyata itu mas Luthfi, dia ditinggalin sama Uni Ie yang agak kurang sehat ke Padang Panjang dikarenakan lagi hamil muda untuk pertama kalinya, dari perasaan sih uni seneng dikasih kepercayaan buat momong bayi, tapi apalah daya fisik sedikit kurang mendukung sempet dirawat juga sih 2 hari dirumah sakit. Lucu ngeliat pasangan muda berdua ini, membuat saya beberapa jenak ikut berhayal, seperti apa saya jika menikah nanti.

Siang itu saya dan mas Luthfi cuma makan siang di Enhaii berdua, katanya mau balik kepadang panjang sore ini nyusul Uni Ie yang udah duluan pulang ke Padang Panjang. Kelihatannya long weekend kali ini bener-bener dimanfaatin bener sama orang-orang, hari ini walau keluar dari rumah udah siang, tetep kelihatan jalan-jalan utama di kota Padang rada sepi, ngga seperti biasa. Mungkin udah pada pulang kampung semua siswa dan mahasiswa yang dari luar Padang, pejabat-pejabat ataupun pegawai negeri juga pasti manfaatin waktu begini buat liburan dan menghabiskan waktu bersama keluarga, keluar dari resahnya hiruk pikuk kota psuedo urban kota Padang tercinta ini.

Ketika Luthfi pamit mau pulang ke Padang Panjang, saya lagi ngelanjutin nonton anime One Piece, karena udah bingung banget. Mau pulang kerumah juga tanggung, besok kuliah dan masih ada UTS dari dosen yang minggu sebelumnya ngambek dan mengundur UTS minggu ini dikarenakan kita telat masuk kelas beliau.

UTS yang baik dan benar
Ada diktat yang udah lama di copy buat mahasiswa buat bahan ujian hari sabtu itu tanggal 19 April, dan saya tidak punya diktat itu. Pada akhirnya kamera smartphone juga yang beraksi, dua puluh halaman untuk dua puluh foto sebagai bahan contekan ujian nanti. Ngga tau kenapa ni Ibu Dosen ketat banget  ngawas ujiannya, ngelirik handphone aja ngga boleh, rada susah juga akhirnya ujian kali ini.

Salah satu Kegunaan Smartphone 
Ujian berakhir, kuliah seperti biasa. Sampai pada mata kuliah perencanaan jalan, karena tugas saya sudah selesai maka dibolehkan oleh dosen untuk pulang lebih awal, ketika mau pulang saya denger Riko lagi ngomong sama temen-temen yang lain buat datang diresepsi pernikahan kakaknya Dhani di Matur, Ambun Pagi sih tepatnya. Rencananya orang-orang itu bakalan pergi kesana pakai motor, Touring gitu deh padahal udah hampir jam 3 Sore, mau nyampe jam berapa disana. Kalo dilihat-lihat cuaca, Padang Panjang pasti hujan. Belum nyampe pesta udah basah kuyup duluan.

Saya mendekati Riko, kampret nih anak! Enak aja saya ngga diajak mau pergi jalan-jalan. Pesta lagi! Kan banyak makanan gratis. “heh pak, saya ngga diajak nih?” dengan wajah yang sedikit di kesal-kesalkan biar Riko takut dan ngajak saya maksudnya. “beneran mau ikut pak? Pake motor lho ini,” saya heran, memangnya kenapa kalo pake motor masalahnya apa? Jangankan ke Matur, keliling Sumbar aja pake motor saya ladenin.

Lalu tiba-tiba Mery nyamber, awalnya dia udah ngajak Defri buat ikutan tapi kayaknya Defri ngga tertarik kalo pergi pake motor. “Kalo Hanafi ikut, Mery ikut dibonceng sama Hanafi” teriaknya dari tangga. Oke! Berarti makin rame yang ikutan. Saya liat kak Ied juga lagi misuh-misuh sendiri, katanya kalau emang jadi pergi ke Matur, dia mau nebeng sampe Padang Panjang, katanya mau pulang kampung. Tapi saya liat dari kejauhan, kayaknya musim seperti ini, dan ngga musim hujan sekalipun. Padang Panjang pasti hujan.

“heh Pak, yakin ngga nih? Bakalan pergi pake motor? Padang Panjang pasti hujan Pak” saya mendekati Riko lagi, “mending gini aja deh pak, wakilin aja 7 – 8 orang buat ikutan, tapi kudu nyumbang lima puluh ribu per orangnya buat rental mobil, kan temen-temen banyak yang bisa nyetir, kita aman ngga bakalan kena hujan, bisa tidur lagi sepanjang jalan” sambung saya menjelaskan pada Riko, “Mobil yang mau dirental ada ngga?, saya sih mau-mau aja pak, yang lain gimana?” Riko menjawab dan mendaftar jadi donatur pertama, “Oke,tanya Hadi aja, dia kan sering keluar kota dan rental mobil tuh, pasti tau. Kalo gitu saya juga ikut, tapi lagi ngga ada duit didompet pak, pake duit bapak dulu aja yak? hehe” saya baru inget ngga ada duit didompet. Lalu Riko jawab “KAMPRET!” sambil berlalu nyari Hadi buat nyariin mobil rental.

Mery juga sedang ada disitu, katanya juga bakalan ikut dan jadi donatur. Ada kak Ied juga yang abis nelfon kerumah katanya memang benar sedang hujan di Padang Panjang. Hadi datang sama Riko, Hadi juga bersedia buat ikut dan nyumbang, begitu juga dengan bang Bagio yang juga mau ikutan, setelah dibilang ke Defri pergi pestanya pake mobil, Defri langsung mau dan ikutan. Ada juga Jefri yang Cuma nyumbang tapi ngga ikutan. Ditanya ke Andre ternyata Andre juga mau banget ikutan. Dan jadilah yang pergi ke pesta saudaranya Dhani, tujuh orang yaitu Saya, Mery, Defri, Andre, Riko, bang Bagio, dan Hadi.

Saya dan Defri nganter motor dulu kekantor, sudah pasti banget bakalan tengah malem nyampe padang lagi sepulang dari pestanya, ngga mungkin motor dititip dikampus, selain demi keamanan juga pasti satpam kampus kesel banget kalo motor dititip ke dia, lagian ngga ada hubungannya juga satpam kampus ama motor, emang ngga ada hubungannya sih, bodo amat lah.

Sepanjang perjalanan, kami semua ketawa ampe kejang. Ngga tau deh bagian mana yang lucu, yang pasti kekalahan Bercelona beberapa hari yang lalu bakalan jadi bahan banget bagi saya buat menghina abis-abisan pendukung Barcelona yaitu Andre dan Riko. Semua orang ketawa ampe capek, sampe stok ketawa dalam kotak ketawa kita masing-masing habis, udah ngga kuat lagi ketawa.

Akhirnya jam 8 atau jam 9 an kita sampe di matur, ngga begitu repot sih nyari lokasinya, tapi matur atau lebih tepatnya sih rumah Dhani itu di Ambun Pagi dingin banget. Ditambah hujan mulai dari Padang Panjang tadi, membuat suasana makin kedinginan. Ngga kebayang deh kalo misalkan tadi berangkat pake motor bisa-bisa sampe pesta udah kayak ikan di rendam es tiga hari.

Sampe dilokasi langsung disuruh masuk kerumah sama Dhani, langsung disuguhi makanan, banyak banget lengkap sampe ke dessert-nya, tapi memang akhir-akhir ini intensitas makan saya menurun, sudah jarang banget makan sekarang apalagi kalau malam, makan pun sekarang porsinya sedikit, Cuma Riko tuh, yang lambung nya Nauzubillah gede banget, itu nasi dua gentong ditambah soto 8 mangkuk plus agar-agar satu piring ludes dimakan sendirian tanpa dikunyah, pantesan akhir-akhir ini perutnya makin keliatan seksi persis perut-perut iklan susu prenagen.

Sebelum pamitan pulang, kita menikmati sejenak orgen yang dimainkan bapak tua, saya dipaksa oleh teman-teman untuk bernyanyi kedepan entah kenapa saya mau. Tapi sesampai di panggung, bapak tua itu tidak tau tentang lagu yang pengen saya nyanyikan, dan saya juga ngga ngerti lagu yang bapak tua itu suruh nyanyikan, sampai akhirnya saya nyaris dilempar tomat busuk oleh penonton bahkan ada yang sudah megang kursi buat dilempar keatas panggung, didaerah dingin begini dengan cuaca seperti ini saya mengeluarkan keringat sebesar tomat. Orang-orang kampungnya Dhani menyeramkan.

Akhirnya saya terselamatkan oleh sebuah lagu ngawur, yang ngga jelas juntrungannya, setelah itu MC nya kembali kepanggung dan memanggil seorang wanita, pake jilbab dan bernyanyi sebuah lagu yang ceria di atas panggung judul lagunya “Ratok Pasaman” yang ituloh, “simpang lah ampek sukomananti, padang tujuah diak mangko pinaga, disinan dulu kito bajanji, banjanji arek bakato bana” ya udah deh kalo ngga tau lagunya, pokoknya asik aja buat digoyang tuh lagu.

Ngga tau kenapa, adrenalin kita jadi meningkat. Saya mulai berdiri awalnya ngajak temen-temen buat joget-joget bareng didepan panggung, tiba-tiba Hadi mengajak salah satu nenek-nenek yang lagi duduk dipinggir panggung buat ikutan berjoged, wah kayaknya asik nih dugem malem-malem diluar ruangan ama nenek-nenek lagi. Sumpah pasti keren banget. Yahh akhirnya semua berakhir setelah lagu berakhir, kita pamitan buat balik kepadang lagi ke Dhani dan keluarganya.

Diperjalanan pulang, saya yang biasanya nyerocos keliatan kayak orang mati, karena ngantuk banget, sampai-sampai saya tidak sadar ternyata sudah sampe padang. Sebelum ketiduran dimobil tadi, saya sempet ngajakin Andre buat ikutan jalan-jalan ke Pariaman besok, mau keliling pulau-pulau yang ada di Pariaman. Dan Andre pun ikut dalam rombongan eksplorasi pulau yang ada di Pariaman besok 20 April 2014.

Akhirnya saya dan Defri yang terakhir di anterin Hadi pulang, sampe di Mess langsung tepar, ditambah besok rencana jam 8 pagi langsung berangkat ke Pariaman sesuai jadwal sebelumnya.

Seperti biasa janji pagi dengan teman-teman itu pasti bakalan selalu dan always ngaret. Sudah jam 8 pagi tapi saya dan Defri masih terlihat seperti orang mati di atas kasur, Mery sudah ribut-ribut di BBM, begitu juga dengan Gadis yang bertanya-tanya, jadi pergi apa ngga?. Setelah nyaris jam 9 saya dan Defri baru selesai bersiap mau berangkat, tinggal menunggu kepastian Andre yang bakalan jadi berangkat apa tidak.

Sedikit menyebalkan melihat sikap Andre yang masih sempat ke kampus dan sarapan pagi dulu, ketika kita sudah menunggu sangat lama, terihat sepertinya Andre agak sedikit males buat ikutan. Tapi akhirnya jam 10 pagi udah pada ngumpul semua di kantor saya yang kalo hari sabtu ngga bakalan ada orang dikantor. Dan kita berlima langsung berangkat kekota Pariaman.

Saya dan Gadis singgah dulu di bandara, karena saya janji sama uni mau ketemu di bandara, Uni baru dateng dari Jakarta, mau tinggal di rumah dulu selama seminggu ngurusin bisnisnya jualan baju sekalian menghadiri acara nikahan temennya. Saya dikasih setengah lusin donat oleh-oleh dari Jakarta sekalian buat kado ulang tahun saya yang bertepatan sekali di hari itu. Keluar dari bandara saya dan Gadis lanjut perjalanan lagi kira-kira satu jam perjalanan kita sudah sampai di kota Pariaman.

Sesampai di Pariaman, saya langsung menelpon bang Ade, beberapa hari sebelumnya saya sudah menghubungi bang Ade, bagaimana caranya supaya saya dan temen-temen bisa jalan-jalan kepulau yang ada di Pariaman ini, kebetulan bang Ade memang orang Pariaman, dulu bang Ade juga pernah bekerja di perusahaan tempat saya bekerja ini. Jadinya, Gadis dan Defri sudah kenal dengan bang Ade, Cuma Mery dan Andre yang belum kenal dengan bang Ade.

Ada banyak cerita menarik dan lucu, bagaimana saya bisa kenal dengan bang Ade, jika saya ceritakan bakalan menghabiskan sebuah cerita untuk satu postingan lagi, jadi ya langsung aja ke cerita kita mengeksplorasi pulau-pulau yang ada di Pariaman. Dicerita long weekend sebelumnya ada Niki dan hari itu juga ada Niki dateng, tapi karena dia yang takut naik sampan dan tidak diizinkan oleh mama dan pacarnya buat nyeberang laut dia ngga ikutan ke pulau, saya juga males banget liat sikap dia yang begitu, ya udah saya suruh aja dia pulang, ketika saya dan bang Ade nyari makan buat nanti makan siang di pulau walau jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, “siapa sih tu? Wanita menyebalkan itu? Orang pariaman bukan?” kata bang Ade nyeletuk. “udah ah bang biarin aja.” Jawab saya sambil menunggu nasi di bungkus di sebuah warung yang saya ngga tau kenapa bang Ade ngajak beli nasi di warung itu.

Akhirnya jam 1 siang kita semua berlayar, meninggalkan tepian pulau sumatera bagian barat kesebuah pulau kecil nun diseberang sana, jauuuh banget kira-kira 15 menit perjalanan laut. Kita berenam sebagai penumpang, Saya, Mery, Defri, Gadis, Andre, dan bang Ade. Serta 3 orang awak kapal dan 2 orang anaknya. Ya karena kapalnya disewa makanya bapak itu mau ikut dan mengantar kita kepulau yang tidak berpenghuni itu.

Perjalanan Panjang Dimulai
Ada 4 buah pulau yang berdekatan di Pariaman tersebut, di awali dengan pulau di bagian paling tepi antara empat buah pulau itu namanya Pulau Tapi, kemudian Pulau Tangah, tidak ada orang tinggal di pulau ini, kemudian Pulau Angso Duo, pulau paling terkenal di Pariaman ada beberapa orang yang berjualan dipulau ini dan dipulau ini juga ada tempat wisata religinya di pulau ini terdapat sebuah mesjid dan makam seorang syeh. Dan yang terakhir Pulau tempat penangkaran Penyu, saya ngga tau nama pulaunya, kata bapak yang nyetir kapal juga ngga boleh sembarangan juga kalo mau main-main kesana.

Pulau pertama yang kita kunjungi adalah Pulau Tapi, saya ngga kepikiran kalau pulaunya bakalan seindah ini. Sumpah keren banget pulaunya, ditambah ukuran pulaunya yang kecil dan ngga ada penghuni jadi enak mengelilingi pulaunya yang masih-masih sangat terlihat asri bersih dan natural banget. Terakhir yang saya ketahui gara-gara Mery meng-upload foto disini ke facebook, salah satu temen saya bilang kalau saya jalan-jalan keluar aja kerjaannya, dan dia ngga percaya ketika saya bilang kalau pulau tempat saya jalan-jalan itu adalah pulau yang ada di Pariaman.
 
Selfie itu hukumnya wajib
Pulau Tapi
Tetap Mencoba Egois

Foto dari Helikopter
Andre, Mery, Bang Ade, Gadis dan Saya 
Sumpah Pulaunya Keren 
Masih Terjebak Friendzone 
Lanjut pulau berikutnya

Kita cuma sebentar aja di pulau itu, lanjut lagi ke pulau satunya lagi, yaitu Pulau Tangah, kita istirahat dipulau ini sambil makan siang, karena di pulau ini banyak pohon-pohon gedenya, jadi keliatan lebih rimbun tapi pulau yang ini kurang indah dibanding pulau pertama tadi, dipulau pertama tadi, awal nyampe disitu saya merasa ngga percaya ada pulau se Indah itu di Sumatera Barat, atau hanya saya yang ngga begitu sadar situasi. Entahlah tapi sebagai warga Sumatera Barat rugi banget deh, ngga pernah nikmati pulau seindah itu. Yang letaknya di Provinsi kita sendiri.

Itu yang dibelakang Pulau Tapi 
Ngga sempet foto di Pulau Tangah, sibuk makan
Yang dibelakang Pulau Tangah 
Sehabis makan, lanjut ke Pulau berikutnya, yaitu ke Pulau Angso Duo, ya seperti wisatawan biasa, kita muter-muter di pulau itu, bedanya dengan pulau lain, pulau ini berpenghuni dan dirawat serta dibuat beberapa fasilitas buat jalan kaki dan lainnya, kalo pulau yang ini rame banget dikunjungi. katanya sih, di Pantai Gandoriah ada kapal yang bisa nganter kita khusus kepulau ini saja dengan bayar sekitar 25.000 rupiah, saya tidak begitu tau harganya. Karena saya juga belum pernah mencoba wisata dengan fasilitas ini. Kita juga istirahat di pulau ini sejenak, sambil menikmati pemandangan yang juga lumayan indah. Namun belum bisa menyaingi keindahan pulau yang pertama tadi.

Mushala yg ada di Pulau Angso Duo 
Pulau Angso Duo 
Kembali Ke Pulau Tapi 
Fly 
Apa Ini
Ketika akan berangkat lagi, kita pengen mengunjungi pulau selanjutnya yaitu tempat penangkaran penyu tersebut tapi sama nahkoda kapalnya ngga boleh kesana katanya, akhirnya karena tergiur oleh air bersih nan biru, kita kembali kepulau pertama buat mandi-mandi, ngga afdol banget rasanya jauh-jauh ketengah pulau ketemu air laut sebanyak, sebersih dan sejernih itu. Tapi kita ngga nyemplung. Udah puas mandi dan minum air laut yang asin banget, kita memutuskan untuk berlabuh lagi dipulau sumatera dan pulang ke pangkuan ibu pertiwi.

Ditengah laut juga udah keliatan mendung banget, dari pada nanti digulung ama gelombang terus ngga bisa pulang mending langsung balik aja kedarat. Seneng banget deh hari itu, apalagi tepat tanggal 20 April hari saya ulang tahun yang ke 22. Harusnya postingan ini, ada di postingan ketika hari itu tanggal 20 atau 21 seperti kebiasaan saya selalu membuat sebuah postingan tentang ulang tahun dihari itu ditiap taunnya, tapi kali ini ngga bisa, karena pas pulang sebelum nyampe ke Padang hujan yang gede banget menghadang kita. Walhasil baju yang tadi nyaris kering dijalanan, jadi basah lagi. Belum lagi Gadis tuh yang lagi halangan, jangan-jangan merembes lagi kesaya yang lagi nyetir motor didepan.

Yak, petualangan yang amazing hari itu, berakhir dengan guyuran hujan sesampainya di Padang, belum lagi nyaris jatuh karena kepleset di perlintasan rel kereta api, untung ngga apa-apa, saya berangkat dengan motor Gadis, sehingga Gadis nganter saya ke kantor dan dia pulang ditengah hujan yang masih lumayan gede sendirian. Ngga enak juga rasanya dianterin gitu sama cewek terus dia pulang sendiri ujan-ujanan. Maap ya idis, lain kali di anterin sampe depan pintu rumah deh. Tapi begitulah, kecapek an membuat saya tertidur sehingga cerita dan postingan ini tertunda berbulan-bulan, belum lagi kerjaan numpuk dan rasa males buat nulis menggerogoti.

Keesokan harinya, hari senin seperti biasa. Hari senin yang ngga enak ketika telah liburan beberapa hari. Ketika rekan-rekan kerja sedang santai-santai sore diruang tengah, dan saya sedang ngga ada kerjaan menulis sesuatu diruangan teknik. Tiba-tiba mas Luthfi dateng, lalu di mengambil handphone saya dan berkata “ ohhh mas, ohh mas aku isin, aku isin mas” seperti suara-suara yang ada di Video bokep yang berformat .3gp ala Indonesia. -______- “mau ngapain sih om?” saya yang merasa aneh dengan sikapnya itu. “Ini cara ngerekam Videonya gimana fi?” katanya bertanya, “Sini handphonenya, tingga pencet yang tombol merah aja kok, pake kamera depan juga bisa. Nih liat. Ahh mas aku isin mas aku isin ahhhhh” saya juga ikut mempraktekkan.

Ngga tau kenapa, tiba-tiba Mas Luthfi merekam video saya yang lagi didepan laptop. Saya berfikir ini orang maunya apa sih?. Lalu tiba-tiba ada Ika adik saya, Mery, Gadis, dan Uni Ie membawa sebuah kue ulang tahun berbentuk lambang Arsenal dengan lilin 22 tahun diatasnya. Ohh jadi ini maksudnya Luthfi pake acara rekam rekam bikin video .3gp ala indonesia?.
Muucie Kakaa 
Tapi apapun itu, terimakasih buat semuanya, terutama Ika yang udah duluan ngasih kado sepasang sepatu, dan sebuah surat didalamnya yang sempat membuat saya menangis beberapa minggu sebelumnya. Maaf juga buat ika yang udah ngasih surprise walau dua hari ini saya nyuekin dia, ngga ngajak dia jalan-jalan ke Pulau sampe dia nangis. Dan hari itu Ika bawain sebuah kue ulang tahun kekantor saya.

Makasi Ika
Makasi Mas Luthfi 
Makasi Kak Gadis
Makasi Uni Ie 
Makasi Kak Mery 
Arsenal nya Gua Gigit Aja Hahahaha 

Dan begitulah hari itu berlalu, long weekend dengan happy ending, kita semua makan malam di malabar. Dan pulang lalu tidur, dan hari-hari monoton pun berlalu sampai pada sebuah long weekend selanjutnya. Bukan long weekend juga sih. Cuma weekend biasa yang berubah menjadi sebuah pengalaman luar biasa. Nanti saya ceritain lagi di Long Weekend Chapter ke III, chapter terakhir tahun ini. Karena ketika saya lihat kalender. Udah ngga ada lagi Long Weekend sampai akhir tahun 2014 ini.

Makasi semuanya
Kalo Ulang Tahun Ya Cemong Gini