Sabtu, 09 Agustus 2014

Maaf

Ya, entah apalah dulu yang membuat kita sama-sama mau melangkahkan kaki untuk bertemu disebuah toko buku, untuk melihat kamu pertama kalinya. Yang beberapa waktu sebelumnya sempat membuat aku senang mendapat pesan-pesan singkat dari kamu, atau sekedar mendengar suara kamu pada malam-malam yang seharusnya aku habiskan bersama dengan teman satu kosan bergembira bersama, entah apalah dulu itu, aku lebih memilih kamu daripada segala macam gelak tawa teman-temanku.

Aku kehilangan jejak kamu nyaris satu tahun, aku masih belum sempat menyatakan rasa yang ada dalam hatiku waktu itu, aku hanya ingin ada suara kamu menemani malam-malamku, aku takut kita hanya akan berakhir semacam itu. Datang dan pergi begitu saja.

Aku lupa, bagaimana ceritanya kita bisa komunikasi lagi. Aku bisa menemukan kamu lagi, aku bisa mengajak kamu jalan berdua lagi, mengajak ke pantai lalu menyatakan rasa sayang yang aku punya ke kamu, aku berusaha memegang tangan kamu, lalu kamu menariknya seolah tak ingin tersentuh oleh aku. Pada akhirnya kamu menerima aku setelah malam datang, ketika aku marah ke kamu tentang jawaban kamu yang tidak jelas entahkah akan menerima aku untuk menjalin hubungan atau tidak. Dan pada 13 April yang kita anggap bukan angka sial, kita jadian.

Banyak hal terjadi setelah hari itu, aku lulus sekolah momen itu terjadi saat aku milik kamu, bahkan aku diterima bekerja, saat-saat itu juga momen aku dengan kamu. Dan dengan adanya tuntutan pekerjaan, aku harus keluar dari kota yang sama-sama kita tinggali ini. Intensitas pertemuan kita berkurang, tapi kita masih bisa mengirim pesan-pesan singkat atau saling telpon dimalam hari.

Banyak hal yang terjadi beberapa bulan bersama kamu, jika kamu ingin tau. Selama aku menjalin hubungan dengan wanita, ya hanya dengan kamu aku bisa bertahan lebih lama. Yang aku sadari ketika bersama kamu adalah, kamu wanita yang benar-benar paling mengerti aku, kamu sangat pandai meredam amarah yang aku punya, kamu bisa menjinakkan sikap egois aku. Aku merasa menang dengan sikap egois yang aku punya, terakhir yang aku sadari. kamulah pemenangnya, kamu tau persis bagaimana caranya menghadapi sikap egois ini, sehingga aku sama sekali tidak punya celah untuk menuduh dimana kurangnya kamu, rasanya kamu memang sangat cocok dengan bagian yang hilang yang ada di diri aku.

Berjauhan dengan kamu membuat aku lama-lama bosan dengan hubungan pesan dan suara walau kadang kita bisa lihat secara visual dengan webcam. Sebelumnya juga aku seringkali membuat kamu menangis, aku marah terhadap kata-kata yang kamu lontarkan, aku marah terhadap sikap yang kamu ambil, hanya kadang aku merasa tersinggung ketika kamu katakan “loh, kamu bisa cemburu juga?”. Yak tanpa perlu aku jelaskan, kamu tau persis gimana aku. Aku ngga mau ngakuin kesalahan yang aku buat, ngga mau terima masukan yang kamu berikan ke aku, walau pada akhirnya apa yang kamu katakan selalu aku kerjakan. Jika kamu ingin tau, aku dapat sifat itu dari Ayah, kamu yang membuat aku sadar aku punya sifat semacam itu pada diriku. Semenjak berpisah dengan kamu, aku berusaha merubahnya. Sangat sulit.

Terakhir aku membuat kamu menangis ketika kita masih menjalin sebuah hubungan adalah, ketika aku akan dipindah tugaskan ke Batam. Lalu kami menangis, setiap kali menelpon kamu selalu membahas hal itu, kamu yang di Padang waktu itu dan aku di Bukittinggi, kamu sudah merasa itu sangat jauh. Dan sekarang aku mendapat kabar aku akan dipindahkan lebih jauh lagi dari kamu.

Entahlah apa itu, aku hanya merasa kita perlu break dari hubungan kita. Ada rasa hambar dengan ribuan pesan singkat dan telpon yang berdering disetiap malam itu. Aku tau kamu sama sekali tidak ingin putus, aku juga merasa bosan dengan rengekan kamu yang tak ingin aku pindah lebih jauh lagi. Aku mengancam kamu “Ya sudah, kalo kamu ngga bisa nerima kalo aku mau pindah, kita putus aja” dengan gampangnya aku mengumbar kata itu untuk pertama kalinya, dan kamu lebih merelakan aku untuk pergi lebih jauh dan kita tetap menjalin hubungan ini.

Tapi akan rasa yang hambar itu, membuat aku memaksa kita untuk mengakhiri semua yang pernah aku mulai ini. Pada saat itu aku masih belum terlalu paham akan sakit yang kamu derita nantinya, aku kembali ke diriku yang egois ini, dan kamu sama sekali tidak bisa meredam egoisku kali ini, entah berapa hari kamu menangisi hubungan yang aku akhiri ini. Kamu tidak ingin kita berakhir, tapi dengan alasanku yang tidak kuat sekalipun aku ingin hubungan kita berakhir. Maafkan aku, ketika itu aku hanya memikirkan diriku sendiri. Maaf jika dengan menyakiti kamu membuat aku mengerti bahwasanya selama ini aku salah. Dan aku ingin berubah.

Dan tentang sumpah serapah yang begitu mudah kamu lontarkan. Aku ingin marah, tapi aku diam, aku biarkan kondisi ini berjalan sampai pada kata stabil, aku tau ini akan sangat berat untuk kamu lalui, sebentar lagi setelah kita putus kamu akan ujian nasional. Dan aku begitu kurang ajar meninggalkan kamu terpuruk, dan angka 13 menjadi angka yang benar-benar kamu anggap sial, tapi sampai hari ini aku sama sekali tidak pernah menganggap angka itu sial, entahkah hari ini kamu masih suka pada angka 8, yang dalam bahasa jepang dibaca Hachi, dan itu angka keberuntungan. Ya kita sama-sama suka angka delapan sejauh yang aku tau.

Hubungan kita memang berakhir hanya dalam beberapa bulan. Sesekali kamu masih nelpon dan bercerita ketika sisa-sisa bonus kamu masih banyak dan merasa sayang jika hanya terbuang begitu saja, aku menjadi pelampiasan sisa-sisa bonus itu, kita masih saling mengirim pesan. Maaf aku selalu lupa mengucapkan selamat ulang tahun pada tanggal 3 Desember, bukan menganggapnya sudah tidak lagi spesial, tapi terkadang aku memang benar-benar lupa. Aku senang sampai hari ini kita masih berteman dan menjalin hubungan baik.

Jujur, aku sedikit kehilangan kamu. Ketika kamu mengganti alamat domain blog kamu, jika kamu ingin tau, aku begitu sedih dengan semua cerita yang kamu ungkap disana, tapi setelah kamu menggantinya aku jadi tidak bisa tau persis lagi apa yang terjadi dengan kamu. Sampai pada suatu malam pada tanggal 7 Agustus, kamu bertanya tentang masalah blog ke aku, aku menjawab dengan satu kata saja, aku sedang makan diluar bersama rekan kantor waktu itu. Sampai dikantor aku penasaran, beberapa bulan ini berarti kamu masih ngepost di blog yang kamu punya, aku ketik nama lengkap kamu di google, aku menemukan blog yang kamu punya. Dan aku jadi tau tentang kekecewaan kamu yang lain tentang aku.

Oke, walau hanya sempat membuat kamu hampir menangis lagi untuk kesekian kalinya. Aku sangat, sangat, sangat merasa bersalah. Kamu lagi dan lagi yang membuat aku sadar, betapa masih egoisnya aku. 4 tahun sudah hubungan kita berakhir, 4 tahun ini juga setelah putus, hubungan pertemanan kita sama sekali tidak putus. Bahkan kamu entah kenapa tiba-tiba menjadi akrab dengan adik perempuan aku.

Sumber Gambar
Aku hanya ingin memohon maaf dan meluruskan apa yang perlu aku luruskan, bukan menulis pencitraan tapi hal inilah yang sebenarnya terjadi. Jika kamu ingin marah silahkan, semua yang kamu tulis tentang kekecewaan kamu itu benar adanya. Terimakasih kamu sudah menyayangi aku semenjak putih abu abu sampai hari ini. Memang ini hidup yang aku punya, terima kasih kamu sudah mau peduli, terimakasih sudah menampar aku begitu keras malam ini dengan kata-kata singkat yang kamu buat.

Aku begitu jutek ke kamu bukan karena aku benci ke kamu, aku hanya tidak ingin lagi rasa nyaman itu datang ketika kamu berhubungan lagi dengan aku. Jika kamu ingin benci silahkan, benci saja aku sesuka hati kamu. Kamu tau kan? Aku masih punya janji ke kamu, atau kamu punya keinginan? aku menepati semua janji yang aku buat dengan kamu, lalu kita saling keluar dari lingkaran kita masing-masing. Sepanjang aku berjalan, semenjak aku mematah semua harap dan tentang nama hubungan yang kita buat dulu. Aku sempat merasakan banyak hal, jika kamu ingin tau. Tidak ada satupun wanita lagi setelah kamu, sudah tidak ingin lagi aku membuat wanita menangis berhari-hari.

Aku mohon maaf ke kamu, karena dengan menyakiti kamu aku menjadi sadar, apa yang tulang rusuk itu inginkan. Tentang kekecewaan kamu saat ulang tahun aku yang ke 22 itu, ada banyak hal yang kamu tidak tau tentang aku dan adik perempuanku, apa kamu tau? Aku marah kepadanya sebulan sebelum aku berulang tahun, karena ulahnya yang membuat aku kurang suka, aku menjeputnya ke kosan dia sekarang, lalu dia keluar dengan sebuah tas toko dan kotak yang lumayan besar didalamnya. Lalu kami diguyur hujan, entah setan apa yang membuat aku marah, dia mau makan pecel ayam, aku iyakan permintaannya. Dan terakhir kami menjeput kiriman Ibu dari kampung ke dia di sebuah loket Bus.

Sampai di kos nya, dia menyerahkan kantong berisi kotak besar itu ke aku. Katanya bawa pulang dulu, nanti kalo sudah nyampe rumah baru boleh dibuka. Sesampai di mess tempat aku menginap, aku membuka kotak itu, tulisannya SELAMAT ULANG TAHUN, ini masih terlalu cepat satu bulan, dia Cuma takut nanti dihari ulang tahun tidak bertemu dengan aku, didalam kotak itu ada selembar surat. Dan kamu tau apa yang aku lakukan dengan surat itu. Aku menangis sepanjang malam dengan surat itu, aku menyadari sebegitunya kah aku sebagai seorang kakak? Bahkan menulis inipun dan mengingat itu membuat aku menangis.

Ada banyak hal yang tidak kamu tau, apa yang ada dalam hatiku. Aku sama sekali tidak marah dengan semua rasa kekecewaan kamu itu, semua kata-kata yang kamu tulis benar. Dan aku memang salah. Dengan ini aku bisa meminta maaf kepada kamu sedalam yang aku bisa. Betapa menyesalnya aku atas sikap aku selama ini. Aku tidak sedang gede rasa, tapi rasa itu bisa saja tumbuh lagi di kamu. Dan aku sama sekali tidak ingin itu terjadi, aku sayang kamu sampai saat ini. Tentang sayang yang aku punya aku ngga mau kamu salah paham. Mungkin hal yang perlu kamu garis bawahi, aku jutek ke kamu bukan karena aku tidak suka atau benci. Setidaknya 4 tahun ini dengan bersikap begitu, kamu bisa perlahan hapus semua rasa nyaman itu.

Dan maaf, bahkan ketika kita tidak dalam suatu komunikasi dan pertemuan sekalipun, aku seringkali membuat kamu kecewa bahkan nyaris menangis. Kamu benar tentang apa yang kamu tulis, dimanapun dan dengan siapapun kamu menjalin hubungan sekarang, semoga kamu sedang berada dalam lindungan orang yang benar-benar menyayangi kamu melebihi dia menyayangi dirinya sendiri.

Jika kamu ingin tau, sejutek dan setidak peduli apapun sikap aku ke kamu. Aku selalu ingin tau kabar kamu, aku lebih senang diam jika menyangkut masalah perasaan, pada siapapun itu. Semoga kamu mengerti, aku hanya ingin semua masalah kamu clear, dan cita-cita besar kamu itu tercapai. Aku rasa kamu tau, bahwasanya cinta bukanlah tentang satu makna.

Untuk kamu, maafin aku.
Maafin aku yang mungkin ngga pernah bikin kamu bahagia
Maafin aku yang mungkin ngga pernah bikin kamu senyum bahagia
Maafin aku yang selalu nyakitin perasaan kamu
Maafin aku yang ninggalin kamu saat kamu butuh
Maafin aku pernah membentak kamu
Maafin aku yang keras kepala, egois dan pemarah
Maafin semua kelakuan buruk yang pernah kamu dapat dari aku
Mohon maaf untuk ribuan kecewa dan air mata yang pernah sia-sia kamu tumpahkan untuk aku

Aku punya pilihan untuk kamu, aku tepati janji yang pernah aku buat untuk kamu, lalu kita saling berpaling dan pergi. Atau, kita akan selalu begini selamanya. Terimakasih buat kamu yang paling mengerti aku, dan membuat aku sadar betapa banyak kurangnya diri ini. Rasa egois ini yang ngga pernah bisa hilang jika kamu ingin tau. Apa kamu punya tips untuk itu? Seperti kamu yang seringkali mengirimi aku pesan singkat tentang tips masalah yang tengah aku hadapi, namun selalu aku abaikan.


Kita hanya teman sekarang, kamu boleh memilih untuk tinggal sebagai teman atau pergi karena sudah terlalu benci. Bagaimanapun juga, kamu bagian penting dihidup aku, sampai-sampai aku bisa menyadari apa yang kurang dalam hidup aku. Terimakasih untuk semua senyum dan kesadaran yang kamu buat untuk aku. Dan mohon maaf untuk semua susah dan luka yang kamu terima. Maaf, maaf, maaf.


Sumber Gambar

Senin, 04 Agustus 2014

Sepeda - Chapter II

#Ayah, Sepeda dan Teman Masa Kecil

Tentang cerita-cerita malam itu, pada suatu malam ada sebuah cerita tentang Ayah yang menjual tanah sawit yang sudah tidak begitu terasa lagi hasilnya, Ayah berhasil menjual kebun itu dengan nominal yang cukup besar. Dari itulah Uni bisa membuka Toko Baju dirumah, Abang saya yang gede bisa melunasi hutangnya di Bank yang dulu dipakai untuk membangun rumah, dan tentu melunasi hutang Ayah di Bank dengan nominal yang juga lumayan gede. Alhamdulillah hari ini Ayah sudah tidak punya masalah hutang piutang lagi dengan Bank. Akhir-akhir ini perekonomian rumah, Ayah khususnya memang rada bermasalah, makanya ketika Ayah mendapat rezeki yang lumayan. Ayah bercerita dia datang ke rumah cucu pertamanya dan memberi sebuah surprise.

Mungkin, harga 500 ribu untuk sebuah sepeda, untuk anak yang masih berumur 5 tahun, bagi orang lain dianggap murah, tapi tidak untuk Ayah ataupun saya. Tapi rasanya itu hadiah yang pantas untuk cucu pertamanya itu. Ketika Ayah menceritakan hal itu, keponakan saya yang bernama Iky girang minta ampun, Ayah mengajak Iky kesebuah toko sepeda, dan Iky disuruh memilih. Iky memilih sepeda yang sama sekali tidak sesuai dengan usianya. Tapi lebih mendingan dibanding selera Ayah yang ingin membelikan sepeda dengan keranjang cantik didepannya. Iky dengan senengnya langsung make tuh sepeda dari toko kerumahnya yang cuma berjarak beberapa ratus meter saja. Sampai dirumah, Iky meninggalkan sepeda barunya dipinggir jalan lalu berlari kerumah langsung kepelukan mamanya, muka Iky memerah, dia malu punya sepeda baru. Saya bisa tau raut wajah Ayah melihat cucu nya yang bertingkah seperti itu. Mungkin itu cinta.

Tidak lama, baru saya teringat. Sudah banyak banget anak-anak Mtsn didepan rumah, saya juga alumni Mtsn itu. Mereka semua memakai sepeda datang kesekolah, berbeda dengan angkatan saya yang lebih dari tujuh tahun yang lalu, banyak banget anak-anak yang masih setingkatan SMP itu bawa kendaraan bermotor ke sekolah.

Saya jadi ingat dengan perkataan mas Gesit beberapa waktu lalu, “di Pasaman Barat ini baru Booming yah orang-orang pake fixie, di Jakarta malah sekarang udah ngga ada lagi” saya masih begitu ingat dengan jawaban saya waktu itu, jawaban yang sama ketika Luthfi menyatakan sebuah pernyataan kepada saya, dulu Luthfi bilang “anak SMP disana sepedanya keren-keren yah?” saya masih ingat tahun lalu ketika saya pulang, banyak banget polisi digerbang SMP atau sederajat, menangkap dan menilang langsung anak-anak SMP yang bawa motor kesekolah.

Ternyata itu memang menjadi Perda baru di kampung saya, yang boleh kendaraan bermotor kesekolah hanya dari SMA keatas, yang lain bakalan ditilang dan hanya orang tua yang dapat mengurus perkaranya kekantor polisi, kalo ngga diurus ya motornya bakalan di kantor polisi terus.

Tentang cerita Ayah menceritakan sepeda Iky, dan semua orang yang rame-rame naik sepeda kesekolah kayak di Jepang. Membuat saya membongkar kembali lemari-lemari file diotak saya. Masih ingatkan? Betapa senangnya ketika orang tua janji bakalan beliin sepeda jika kita dapat ranking memuaskan disekolah? Masih ingat tidak? Tentang kita 2 roda sepeda, dan 2 roda bantu, apakah masih ingat? Lutut dan sikut yang terluka, hanya untuk bisa menyeimbangkan badan dan pandai bersepeda dengan hanya dua ban saja?. Saya rasa semua orang punya cerita spesial tentang hal ini.

Terlintas diotak saya tentang tulisan ini ketika saya sedang di Yogjakarta kemarin. Saya mencatatnya dinote smartphone, lalu baru sekarang bisa ditulis. Entah kenapa ini bisa terlintas begitu saja di otak saya.

Waktu itu saya masih SD, entah kelas 3 atau 4. Dulu  Ayah kekota Padang itu rasanya jauh banget. Ya bisa dibayangkan, ada orang dari kampung yang pergi ke kota, untuk membeli alat-alat untuk membuat perabot, semacam kuzen, pintu, jendela, meja, kursi, lemari dan lain-lain. Ketika Ayah akan berangkat subuh-subuh, saya masih mewanti agar Ayah jangan lupa membelikan saya sebuah sepeda seperti kesepakatan saya dan Ayah sebelumnya, saya udah ngga sabar buat main sama teman-teman lain yang udah pada punya sepeda semua.

Kota Padang memang ngga terlalu jauh dari kampung, tapi ketika saya masih kecil dulu, ketika diajak kekota Padang itu rasanya seneng banget, dan sekarang hampir 6 tahun lebih saya menetap dikota Padang dan rasanya biasa saja hari ini.

Saya tahu, ayah bakalan ngambil mobil jurusan yang lewat depan rumah saya dari Padang. Mulai dari jam 6 sore tadi saya sudah duduk dipinggir jalan, menunggu dengar suara angin dan dentuman musik dari mobil bus angkutan umum dari Padang itu. Kira-kira 300 meter dari rumah saya ada tikungan sehingga terkadang bus sebesar itu biasanya kedengeran suara desiran anginnya terlebih dahulu baru terlihat mobilnya datang.

Di mesjid tempat saya mengaji, Siis sudah mengumandangkan adzan magrib, Ibu sudah memanggil dari dalam rumah untuk segera masuk dan ngga baik magrib-magrib keluyuran dipinggir jalan. Tapi biasanya Bus dari padang itu jam 6 sudah lewat didepan rumah dan kenapa hari ini belum balik, dan ngga ada kabar dari Ayah sama sekali, handphone dijaman itu memang kebutuhan tersier. Ayah memang ngga punya, saya ingat hari itu Abang saya yang gede sama Uni juga sama dengan saya lagi menunggu Ayah pulang.

Dengan langkah gontai saya terpaksa jalan kerumah dengan berat hati dari pada nanti dimarahin Ibu. Beberapa langkah kemudian, ada bunyi desiran angin yang kencang, tiba-tiba Uni teriak “Ayah!!” sambil tersenyum lalu berlari lagi kepinggir jalan raya dan melihat arah tikungan 300 meter dari rumah, Saya juga ikut-ikutan dibelakang uni lari begitu juga kakak, beberapa saat kemudian yang terlihat adalah sebuah truk besar pengangkut pasir yang bunyinya sama dengan Bus yang biasa dari Padang itu. Saya kecewa, kakak kecewa dan Uni juga kecewa. Mereka berdua balik kedalam rumah, saya masih menunggu dan melihat, ternyata ada Bus dengan tulisan “MANDALA” didepan bagian atasnya dan “FANTASI” dibagian bawahnya tepat dibelakang truk pengangkut pasir tadi. Saya teriak sama dengan teriakan Uni tadi “AYAH!!” lebih histeris lalu Uni dan Kakak lari lagi kepinggir jalan raya.

Bus angkutan umum itu benar-benar berhenti tepat di depan rumah, dari balik mobil ada sepasang kaki yang turun memakai sendal Indian. Entahlah, orang dulu suka banget pake sendal itu. Celana bahan seperti itu siapa lagi kalau bukan ayah, kemeja polos lengan panjang yang dilipat sampai kesikut. Kebiasaan ayah satu hal, ya jarang banget yang namanya bawa oleh-oleh. Selama ini jika ke padang hanya beberapa ikat bengkuang yang dibawa kerumah. Ya seperti itulah hari-hari yang indah berlalu dirumah.

Yang saya tunggu tidak itu, “sepeda” yang ada di otak saya hanya sepeda. Tiba-tiba kenek bus tersebut manjat keatas bagian Bus yang banyak banget barang-barang menumpuk disana, lalu kenek itu mengangkat sebuah sepeda baru berwarna hijau tidak begitu besar lengkap dengan roda bantu yang ada dikiri dan kanannya. Saya seneng banget hari itu, beberapa belas tahun setelah hari itu sekarang anak kecil yang berdiri menunggu sepeda itu merasa menyesal, kenapa perhatiannya hanya tertuju pada sepeda barunya? Harusnya dia lihat paras Ayahnya yang lelah dalam perjalanan. Tetap memaksa tersenyum meski perjalanan itu panjang.

Ya, meski saya belum punya anak. Hari ini saya bisa rasakan, kasih sayang saya pada keponakan aja rasanya sangat-sangat sayang, apalagi anak sendiri. Pasti semua orang tua punya kepuasan bathin tersendiri bisa membuat anaknya senang. “Terimakasih Ayah”. Hal yang tidak sempat anak kecil itu sampaikan hari itu.
 
Butut, Tapi penuh dengan sejarah
Keesokan harinya, saya hanya tidak sabar menunggu jam pulang sekolah. Tanpa menunggu teman yang lain seperti biasa jalan kaki pulang sekolah, saya ngibrit duluan kerumah. Sampai dirumah saya menaruh tas di rak yang telah dibagi ayah untuk kami anaknya masing-masing. Saya membuka baju putih tanpa mengganti celana dan menggantungnya. Saya lari kebelakang langsung menarik sepeda itu dari dapur kedepan. Ibu yang sedang sibuk didapur melirik, lalu berteriak dari dapur “Piii, maen sepedanya nanti, makan dulu!” anak kecil memang memang selalu susah untuk disuruh makan, “Iya bu nanti” saya menyahut, “Makan dulu atau nanti Ibu jual lagi sepedanya” Ibu mengancam, “sebentar aja kok Bu, Cuma muter-muter SD belakang rumah aja” saya merengek. Dan akhirnya saya kalah dalam perdebatan itu, karena saya ngga mau sepedanya di jual.

Saya tidak menemukan temen-temen yang lain yang biasanya sudah pada ngumpul di SD belakang sekolah, cukup memalukan memang saya masih belum bisa mengendarai sepeda jika tanpa roda bantu, sedangkan teman-teman saya yang lain sudah bisa menyeimbangkan badannya dan sudah bisa balapan tanpa harus memakai roda bantu.

“Napi, sepeda baru ya?” tiba-tiba ada yang menyapa saya, seorang anak kecil ingusan yang sedang berdiri dipintu rumahnya. “Topan?” Saya menyebut namanya, Topan anak seorang guru Mtsn yang berada didepan rumah saya, dia tinggal dengan keluarganya dirumah dinas SD yang ada dibelakang rumah saya. Topan adalah seorang teman masa kecil saya yang sangat akrab.

Lalu tiba-tiba Topan berlari masuk kedalam rumahnya, mengeluarkan sebuah sepeda yang sama modelnya dengan yang saya punya, besarnya pun sama. Yang membedakan sepeda Topan sudah tidak punya roda bantu. Berminggu-minggu saya bermain sepeda dengan Topan. Bahkan Topan bisa menyeimbangkan badannya dengan sepeda yang jauh lebih gede punya Kakak saya. Ini membuat saya iri dengan Topan. Kenapa dia begitu hebat mengendarai sepeda.

Sampai disuatu hari saya balapan dengan Topan, masih di halaman SD belakang rumah saya. Saking kencengnya, saya lupa kalau didepan rumah Bu Anna guru SD tersebut banyak sekali batu yang gede-gede, dan roda bantu sepeda saya bengkok keatas, dan sudah ngga menyentuh tanah lagi, Topan Cuma ngeliatin, lalu Topan menyuruh saya buat membuka saja kedua roda bantu itu, sudah saatnya saya ngga perlu lagi menggunakan jasa kedua ban itu, begitu katanya.

Saya mengikuti perkataan Topan, kami berdua jalan kaki keluar dari kompleks SD, nyari sendiri kunci-kunci dengan meminjam ke tetangga, dan mencoba mempretelinya sendiri. Akhirnya kami berdua berhasil membukanya, dan memasang kembali sepeda tersebut, hal yang luar biasa untuk dilakukan dua orang anak kecil.

Saya mengantarkan roda bantu yang malang itu kerumah, Ibu hanya heran. Kenapa roda bantunya saya buka, apa saya sudah bisa tanpa roda bantu. Saya dan Topan kembali ke SD, dengan menggiring sepeda itu, karena jika langsung mengendarainya kaki saya masih belum sampai ketanah jika saya duduk di atas jok nya.

Topan mengajari saya beberapa trik agar bisa mengendarai sepeda tanpa roda bantu, saya bawa sepeda itu kedepan teras rumah Bu Nini yang beberapa tahun kemudian menjadi guru Fisika saya, dan Topan menjelaskan tentang keseimbangan, karena Teras itu agak tinggi saya bisa langsung duduk diatas sepeda dan bersiap mengayuh. Beberapa saat kemudian Topan memberi aba-aba dan....

Saya tidak percaya, Topan orang pertama yang melihat saya mengendarai sepeda tanpa menggunakan roda bantu, saya bisa menyeimbangkan diri, angin begitu lembut mengusap pipi dan rambut saya, begitu bersemangat saya mengayuh sepeda tersebut sampai kencang, beberapa saat kemudian saya sampai lagi didepan rumah Bu Anna yang banyak batu gede tadi, saya kehilangan keseimbangan dan Braaakk!!!! Sikut dan lutut saya terluka oleh batu-batu didepan rumah Bu Anna, Topan yang sedari tadi berdiri mematung didepan rumah Bu Nini langsung lari ketempat saya terjatuh, sakit banget rasanya saya mau nangis. Darah mulai mengalir dan sesampainya Topan disana entah kenapa kami berdua saling tertawa, Topan mengangkat sepeda saya dan menggiringnya kepelataran SD, saya pun dengan menahan sakit mengikutinya kebelakang.

Entah apa yang tadi membuat kami tertawa, di pelataran SD sekarang Topan hanya sedang memperlihatkan bekas luka yang dia dapat, selama berlatih sepeda. Saya sama sekali tidak mendapat pelajaran apa-apa hari itu, yang saya tau saya sudah bisa mengendarai sepeda. Dan Topan terselip dalam cerita itu, hal yang ngga bakalan pernah bisa saya lupakan.

Berminggu-minggu kemudian, sudah tak terhitung lagi bekas luka yang saya dapatkan, tapi setiap hari hanya semakin memantapkan saya mengendarai sepeda, puluhan kilo sudah saya lewati bersama sepeda tersebut. Entah beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian. Suatu hari ketika saya lewat didekat rumah Topan, sudah tidak ada lagi dia disana, rumah itu begitu sepi tidak ada tanda-tanda ada orang didalamnya.

Saya pulang kerumah, dan mencari Ibu kedapur. “Bu, Pak Will dan keluarganya kemana?” saya bertanya pada Ibu, rumah saya dan Topan hanya berjarak beberapa meter saja, dapur saya dan dapurnya berdekatan. Tapi saya tidak tau kalau Topan akan pergi. “Pak Will pindah tugas pi kekampungnya, sekarang mereka sekeluarga sudah pindah, dan mungkin ngga balik lagi” lalu selanjutnya saya diam, ada yang aneh dengan perasaan saya waktu itu, Kosong.

Cerita ini saya apresiasi untuk Topan, saya yakin semua orang punya cerita seperti ini dalam kehidupannya. Hari pertama punya sepeda, teman bersepeda, dan teman masa kecil yang pergi tanpa pamit langsung hilang. Namun sampai sekarang masih ada di hati. Dimanapun Topan saya merindukannya, ketawanya, cara bicaranya yang dulu, masih saya ingat dengan sangat jelas. Sahabat yang mengajarkan saya tentang sepeda.

Dimanapun dia hari ini, walau teknologi sudah canggih sekalipun saya masih belum bisa menemukan keberadaannya dimana sekarang. Tapi jika Topan baca cerita ini, semoga dia bisa tau. Dahulu di kampung bernama katimaha, dia pernah tinggal disana dan punya seorang sahabat bernama NAPI jika dia tidak tau tentang HANAFI.

Dan tentang cerita ini, semua orang pasti punya itu
Cerita tentang “Ayah, sepeda, dan sahabat masa kecil yang pergi entah kemana”
Kawan, saya masih bisa mengingat ruang dan waktu yang berkonspirasi menciptakan sebuah cerita tentang kita, lalu memisahkan kita. Dan mudah-mudahan ada hari dimana rindu yang menumpuk ini pecah oleh haru.